Niat Pemerintah Amerika Serikat untuk mengobrak-abrik perekonomian Iran tak ada hentinya. Terbaru, negeri Paman Sam itu berencana akan memberikan sanksi baru kepara Iran.
“Sanksi yang baru ini akan menargetkan sektor ekonomi mereka yang belum terkena sanksi sebelumnya,” kata pejabat pemerintah senior Trump kepada wartawan dilansir reuters, Senin.
Pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan pemerintah AS berharap dapat mengambil sejumlah langkah baru dalam beberapa pekan ke depan.
“Semakin banyak yang dapat kita lakukan saat peringati kesepakatan itu, semakin baik,” kata dia, seraya menambahkan bahwa butuh waktu untuk memasukkan sanksi semacam itu dan Departemen Keuangan sedang mengupayakannya.
Salah satu alat yang digunakan AS termasuk sanksi impor minyak dari Iran. Washington memberikan keringanan terhadap delapan pelanggan minyak Iran, namun itu bersifat fleksibel.
Pejabat tersebut mengatakan AS bisa tidak memberikan keringanan tersebut sama sekali. “Saya rasa, itulah tujuan kita,” katanya.
Mengurangi jumlah keringanan tersebut akan membatasi ekspor minyak dari Iran, produsen terbesar ke empat OPEC. AS menetapkan target sebelumnya untuk memangkas ekspor minyak Iran hingga ke level nol, dan pejabat tersebut mengatakan bahwa tujuan tersebut tidak berubah.
Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, di dalam cuitan pada Selasa, mengatakan sanksi AS terhadap Iran adalah terorisme negara.
“Tekanan maksimal @realDonaldTrump –yang melecehkan putusan UNSC Res 2231 & ICJ– menghambat upaya bantuan oleh #BulanSabitMerahIran buat semua masyarakat yang diporak-porandakan oleh banjir yang tak pernah terjadi sebelumnya. Peralatan yang terhalang meliputi helikopter bantuan,” tulis Zarif di akun Twitter.
Ia menambah, “Ini bukan cuma perang ekonomi; Ini adalah TERRORISME ekonomi.” (ham)