Sukabumi – Calon Wakil Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi yang sejak menjadi anggota DPRD, Wakil Bupati dan Bupati di Purwakarta memiliki hobi “asruk-asrukan (blusukan)” ke kampung-kampung maupun ke lapangan tempat warganya mencari nafkah itu, kembali membuat pernyataan kontroversial terkait kurikulum SMK di Jawa Barat.
“Cukup 6 bulan belajar di sekolah, selebihnya belajar praktek di lapangan industri langsung hingga selesai sekolah,” ujarnya, Jumat (2/3) saat mengunjungi kawasan sentra industri di Sukabumi Jawa Barat.
Kali ini dalam temuan lapangannya di kawasan industri UMKM di Sukabumi, Dedi Mulyadi kembali menyinggung soal kurikulum sekolah yang harus mengembangkan kemampuan dalam basis industri.
“Ini yang saya maksud, bahwa sekolah harus memiliki basis industri. Sekolah berbasis industri itu bukan diukur dengan PKL, itu yang saya tidak setuju,” ujar Dedi sesaat setelah berbincang dengan seorang siswa SMK yang sedang bekerja magang Praktek Kerja Lapangan (PKL) di kawasan sentra industri, Sukabumi, Jawa Barat.
Dijelaskan Dedi yang kelak akan menjadi Wakil Gubernur mendampingi Deddy Mizwar ini, menjelaskan yang dia maksudkan adalah siswa SMK cukup belajar satu semester saja di kelas, semester selanjutnya siswa SMK masuk ke dunia industri sesungguhnya untuk bekerja magang hingga selesai masa pendidikannya.
Tentu saja menurut pasangan No.4 di Pulgub Jabar ini, pihak sekolah harus menjalin kerjasama dengan para pelaku dunia industri, semisal yang ada di kawasan industri di Sukabumi ini.
Menurutnya dengan menempuh proses pembelajaran seperti ini, setidaknya ada dua keuntungan yang bisa didapatkan saat siswa menempuh proses pendidikan lewat pola kerja magang. Yakni ilmu aplikatif yang didapat dari pengalaman kerja langsung serta subsidi pendidikan yang dididapat dari hasil kerja magang si anak itu sendiri.
“Ada dua hal yang akan didapatkan si anak, pertama mendapatkan ilmu yang bersifat aplikatif yang didapat saat bekerja magang di kawasan industri, yang kedua dia bisa mendapat subsidi pendidikan dari usaha industri, karena dalam prosesnya ada pendapatan dari hasil produksi si anak walaupun masih dalam tahap belajar,” ungkap Dedi.
Paling tidak, menurut Dedi Mulyadi selain siswa SMK bisa mendalami penguasaan keterampilan yang dibutuhkan di dunia industri melalui pengalaman magang kerjanya, juga mendapatkan penghasilan.
“Paling tidak, untuk uang jajannya, uang makannya sudah bisa dia dapatkan sendiri,” pungkasnya. (pri)