telusur.co.id - Presiden UEFA, Aleksander Ceferin diberitakan telah mengadakan pembicaraan dengan Chairman Manchester City, Khaldoon Al Mubarak setelah City lolos dari hukuman UEFA akibat melanggar Financial Fair Play.
Menurut laporan Sky Sports, keduanya telah bertelepon pada Senin (13/7/2020) setelah Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS) mencabut larangan City untuk berkancah di kompetisi Eropa selama dua tahun.
Kedua belah pihak menyatakan keinginan mereka untuk memiliki hubungan yang konstruktif. Pada Maret lalu, Ceferin menyatakan tetap menganggap Manchester City sebagai "aset" walaupun kasus yang mendera mereka.
"Seperti halnya klub lain, mereka adalah aset kami. Saya menghormati mereka," katanya dalam wawancara televisi pertamanya di Inggris setelah City dijatuhi larangan tersebut.
"Saya tidak ingin mengatakan itu, 'Sekarang kami tidak suka Manchester City'. Kami menyukai mereka, mereka adalah klub kami," tambah Ceferin.
UEFA menghukum City lantaran melanggar aturan FFP dengan menaikkan nilai pendapatan dari sponsor yang berkaitan dengan Grup Abu Dhabi United pimpinan Sheikh Mansour yang menjadi pemilik City, demi menghindari pelanggaran aturan FFP antara 2012 sampai 2016.
Manchester Biru juga dianggap kurang kooperatif selama masa penyelidikan kasus tersebut. Namun, CAS mencabut hukuman yang dijatuhkan UEFA ke City pada Senin dan mengurangi denda awal 30 juta euro (sekitar Rp491 miliar) menjadi 10 juta euro (sekitar Rp167 miliar).
CAS memutuskan sebagian besar dugaan pelanggaran yang dilaporkan tidak terbukti atau sudah melewati waktu (time-barred).
Manajer City, Pep Guardiola mengaku senang The Citizens dapat bermain di Liga Champions musim depan. Mereka sendiri telah memastikan satu tiket Liga Champions 2020/2021 usai mengunci posisi runner-up Premier League 2019/2020.
"Saya sangat senang atas keputusan itu, yang memperlihatkan bahwa apa yang orang bilang tentang klub ini tidak benar. Bila kami melakukan kesalahan, tentu kami akan menerima putusan UEFA dan CAS," katanya dilansir laman resmi City.
"Kami punya hak untuk membela diri ketika yakin apa yang kami lakukan benar. Faktanya tiga hakim memutuskan itu. Di sisi lain kami juga senang sebab bisa membela apa yang kami lakukan di atas lapangan selama ini," tambah mantan manajer Barcelona dan Bayern Muenchen itu. [Thomas Rizal]