telusur.co.id - Presiden Jokowi mengaku memiliki pertimbangan kenapa tidak memilih karantina wilayah atau lockdown. Menurutnya, tidak ada negara yang berhasil menyelesaikan penyebaran virus Corona dengan lockdown.
Joko Widodo sempat mengurai alasan kenapa kebijakan tersebut tidak diambil dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7 pada Rabu (22/4/20) lalu.
Jokowi, awalnya menjelaskan bahwa anggaran untuk karantina wilayah, di Jakarta memerlukan Rp 550 miliar per hari dan masyarakat tidak bisa beraktivitas di luar rumah.
Sementara untuk Jabodetabek bisa 3 kali lipat per hari. Dikatakan Jokowi, bukan uang yang jadi masalah, namun diirinya belum mendapatkan referensi negara yang berhasil lockdown.
"Kita kan juga belajar dari negara-negara lain. Apakah lockdown itu berhasil menyelesaikan masalah, kan tidak," ucap Jokowi
Terkait itu, mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai memberi masukan kepada Jokowi terkait referensi negara yang berhasil dalam lockdown.
“Pak Jokowi saya mau tunjukkan negara yang lockdown tapi sukses, tidak ada yg meninggal dunia yaitu Vietnam, negeri yang dekat episentrum Covid-19,” tulis Pigai di akun twitternya, Jumat (24/4/20).
Vietnam memang belum memiliki pasien meninggal akibat Covid-19. Bahkan sebaran virusnya tidak lebih dari 300 kasus, yaitu hanya 268 kasus dengan tingkat kesembuhan 83,5 persen atau mencapai 224 kasus.
Atas alasan itu, Pigai meminta Jokowi untuk lebih terukur dalam memberi pernyataan di depan publik. Jokowi harus menjaga martabat jabatannya sebagai seorang kepala negara.
“Tolong terukur agar jaga kredibilitas dan martabat sebagai kepala negara RI,” tukasnya.[Fhr]