telusur.co.id - Perayaan ulang tahun Republik Indonesia harusnya dijadikan momentum untuk mencurahkan kegembiraan bagi semua rakyat Indonesia. Namun sayangnya, HUT RI ke 75 ini malah mengundang kontroversi karena logo yang dominan menyerupai lambang salib.
Waketum Pemuda Dewan Da'wah, Wildan Hasan sangat menyayangkan logo HUT yang menyerupai lambang salib. Ia mengatakan supergraphic sebenarnya bisa direka tanpa menghasilkan logo yang kontra produktif. “Logo yang dibuat tanpa sensitifitas yang tinggi terhadap realitas masyarakat akan menimbulkan kontroversi dan keresahan,” ujar Wildan dalam keterangan tertulisnya, Rabu.
Ketua MIUMI Kota Bekasi ini menuturkan di dalam situsai dan kondisi masyarakat tidak stabil dalam berbagai bidang saat ini, semestinya pemerintah sensitif untuk tidak memberikan beban baru bagi rakyat yang saat ini serba kesulitan.
“Meskipun logo itu diklaim sebagai abstraksi dan bukan bermaksud untuk menonjolkan simbol agama tertentu, tetapi logo yang abstrak akan dipahami secara abstraktif oleh masyarakat. Sehingga pemerintah jika sejak awal menyadari hal itu, tidak akan terjadi kontroversi terkait logo tersebut,” katanya.
Logo dengan dominasi gambar yang menyerupai salib tentu saja menyinggung perasaan umat Islam. Agama resmi negara bukan hanya satu jadi tidak etis bila seolah ada gambaran yang dominan untuk satu simbol agama tertentu pada logo tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan Kemerdekaan RI yang notebene umat Islam memiliki peran yang sangat besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Supaya tidak menimbulkan keresahan, Wildan yang menjabat Dewan Tafkir PP Persis ini menyarankan agar pemerintah segera merubah logo HUT RI ke 75. “Tidak ada kesulitan apapun bagi pemerintah untuk merubah logo tersebut. Dengan begitu rakyat yang mayoritasnya adalah umat Islam akan dengan senang hati memakai logo tersebut sebagai tanda syukur atas kemerdekaan RI,” tuntasnya. [ham]