telusur.co.id - Papua kembali rusuh, hal tersebut masih terkait dengan kasus rasisme yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya.
Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mendesak Presiden Joko Widodo untuk berbicara dan menyampaikan sebuah rencana, untuk menghentikan rusuh akibat kasus rasisme itu.
"Pak Presiden perlu segera bertindak. Lakukan sesuatu yang menenangkan jiwa Papua yang tengah bergolak. Apakah Bapak belum mendengarnya? Berarti benar, disekitar Bapak ada tembok raksasa, kuping Bapak seperti disumbat tisu basah bila tidak mendengar," kata Fahri kepada wartawan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (29/87/2019).
Karenanya, Fahri mengaku sangat mengkhawatirkan kemampuan pemerintah memahami kompleksitas masalah, dan mencemaskan kemampuan mereka menggunakan mandat lama dan mandat baru dalam mengelola dinamika yang ada.
"Saya khawatir mereka anggap remeh masalah sampai kita menyesal dan tak bisa lagi menyesal. Media tidak memberitakan bukan berarti tidak ada peristiwa, dan media memberitakan bukan berarti peristiwa ada. Hari ini kita melihat apa yang sebenarnya ada dan apa yang sebenarnya fiksi belaka. Papua bergolak Pak," kata Fahri.
Pimpinan DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) itu mengingatkan, bahwa Papua adalah anak kandung Republik Indonesia, bukan anak angkat, apalagi anak tiri. Maka, terimalah sepenuhnya.
"Yang melukai Papua adalah yang melukai kita. Nyatakan sakit penyesalan dan maaf, kalau ingin tetap dianggap orang tua dan saudara," kata inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu, yang juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendoakan para petugas TNI dan Polri di lapangan agar selalu dilindungi Allah SWT dalam pelaksanaan tugas negara. [ipk]