telusur.co.id - Pakar geopolitik Hendrajit menilai, kejadian-kejadian yang terjadi di Papua dan Papua Barat belakangan ini hanyalah aspek hilir. Sedangkan hulu atau penyebanya tidak tampak.
Menurut Hendrajit, aspek hulunya adalah jika Vanuatu gagal membayar urusannya ke China, maka China akan meminta pelabuhan di Vanuatu.
"Apa artinya itu, Australia langsung gatal-gatal, karena itu pantai Timur dari Australia. Vanuatu itu, berbatasan langsung di pantai Timur Australia. Jadi kalau Australia gatal-gatal, Papua Nugini, atau Papua kita ini jadinya demam tinggi," kata Hendrajit di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (3/9/19).
Selain itu, Hendrajit mengungkapkan, sebetulnya pihak asing memakai isu separatisme hanya untuk daya tekan kepada Indonesia.
"Misalnya soal Freeport dia kurang puas, maka dia mainkan itu, bukan beneran untuk pro kemerdekaan. Tapi kan jadi runyam, daerah itu jadi rusuh, mencekam, perang nggak, damai juga nggak, jadi penuh rain of terror istilahnya gitu," bebernya.
Di samping itu, menurut dia, Papua menjadi sasaran ring tinju pertarungan yang aktornya ada di Jakarta. Jadi, tambah dia, potensinya bukan separatisme, tapi ini bisa menjadi konflik horizontal di Papua, yang membuat bukan hanya Papua tidak stabil tapi kawasan sekitarnya juga.
"Misalnya, bisa soal agama, tujuh suku Itupun kalau mau diadu domba bisa. Selama ini pun ada titik temu, tapi juga kepentingannya egonya gampang dipompa," jelasnya.
"Tetapi arahnya tidak ke merdeka. Kalau seperti Fretilin di Timtim jelas dia melawan dan perang. Kita superior di militer, dia main perang gerilya. Selain itu GAM di Aceh, itu real, jaringannya terorganisir, komunitas pergerakannya ada, sama kayak Fretilin itu cuma bedanya Aceh bisa didamaikan dengan Helsinski walaupun tidak memuaskan semua pihak," tambahnya.
Sedangkan, kata dia, di Papua belum ada satu kelompok pro kemerdekaan yang ideologinya jelas, komunitas pergerakannya terbangun dan jaringannya pun tersusun.
"Jadi gampang dijadikan mainan main api dari para elit Jakarta yang sebenarnya lebih mau supaya instabilitas, kemudian Jokowi jadi tergantung sama orang-orang ini," tandasnya. [Fhr]