telusur.co.id - Tenaga Ahli Dirjen KIP Kemenkominfo, Hendrasmo mengatakan, kehancuran sebuah negara, kebanyakan karena masyarakatnya sudah tidak bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang bukan.
Dia mencontohkan, hancurnya Uni Soviet sebenenarnya bukan karena ideologi komunisme yang dianut negara itu.
"Tapi karena masyarakatnya sudah tidak bisa membedakan fakta dan fake (palsu)," kata Hendrasmo dalam diskusi bertajuk ''Menakar Situasi Polhukam Menjelang Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI" di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/19).
Dia menjelaskan, saat ini kita sudah mengalami kemajuan teknologi yang pesat, terutama penggunaan internet. Kebencian dan ketakutan yang diciptakan telah mewarnai masyarakat di Indonesia.
Hendrasmo mencontohkan, Peristiwa penusukan Wiranto dapat dilihat sebagai bentuk kebencian-kebencian yang diciptakan di tengah masyarakat. Dampaknya, masyarakat Indonesia semakin sulit membedakan mana yang fakta dan mana yang rekayasa.
Oleh sebab itu, pihaknya mendorong untuk terus menggelorakan dan mendorong supaya masyarakat bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang bukan.
"Kita harus terus menerus menggelorakan dan mendorong supaya masyarakat bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, namun itu tidak ada artinya jika masyarakat sendiri tidak mau menyadari hal itu," pungkasnya. [Fhr]