Telusur.co.id - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengatakan, ideologi gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) merupakan embrio gerakan radikal di Indonesia.
Hal itu tersebut disampaikan Wiranto saat pembacaan ikrar setia terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika dari sejumlah eks-Harokah Islam Indonesia, eks-DI/TII dan eks NII di gedung Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (13/8/19).
"Dalam perjalanannya negeri ini membangun, pada 7 Agustus 1949 ada proklamasi NII," kata Wiranto.
Mantan Panglima ABRI itu menguraikan secara singkat tentang gerakan DI/TII yang diinisiasi pasukan perjuangan Hizbullah dan Sabilillah yang terus memperjuangkan ideologi baru melalui gerakan bersenjata.
Hingga tahun 1962, jelas Wiranto, gerakan bersenjata tersebut berpusat di Jawa Barat, tepatnya waktu itu di Tasikmalaya, bersyukurnya dapat dinetralisir dengan baik.
Kendati organisasinya sudah tak berfungsi, menurut Wiranto, ideologi mereka yang menentang Pancasila tetap berjalan dan berkembang di kalangan para pendukung.
Wiranto berdalih, ideologi inilah yang kemudian berkembang menjadi embrio gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Seperti Jihadis, Komando Jihad, Mujahidin Nusantara hingga Jamaah Islamiyah.
"Semua derivasi, turunan ideologi yang menentang Pancasila," tukasnya.
Beberapa tokoh eks-Harokah Islam Indonesia, DI/TII, NII, yang hadir membaca ikrar, antara lain. Sarjono Kartosuwiryo, putra SM Karto Suwiryo yang dikenal sebagai pentolan DI/TII.
Kemudian, Aceng Mi'raj Mujahidin Sibaweh (Putra imam DI/TII terakhir), H Yudi Muhammad Aulia (Cucu KH Yusuf Taujiri dan Prof Anwar Musaddad, pendiri DI/TII).
Lalu, KH Dadang Fathurrahman (Cucu dari Syaikhona Baddruzzaman yang merupakan guru Karto Suwiryo), Imam Sibaweh, Prof Mussadad, dan KH Yusuf Taujiri.[Asp]
Laporan: Tio Pirnando