telusur.co.id - Analis geopolitik Hendrajit menilai, peluang Partai Gerindra masuk dalam koalisi pemerintah Joko Widodo-Ma'ruf Amin, cukup besar. Hal itu disebabkan, karena politik balas budi Megawati Soekarnoputri atas Prabowo Subianto yang pernah memiliki perjanjian Batu Tulis saat maju pada Pilpres 2009 silam.
Menurut Hendarjit, Mega memiliki sifat yang terbilang konsisten. Mega ingin menjadikan pemerintahan 2019-2024 sebagai momentum besar untuk merealisasikan perjanjian Batu Tulis tersebut. Selain itu, Megawati ingin agar pemerintahan Jokowi dapat berjalan aman.
"Ini seperti 'bulan madu' yang sempat tak terlaksana di 'perkawinan' Mega-Pro di Pilpres 2009," kata Hendarjit dalam diskusi bertajuk 'Kabinet Baru Jokowi: Oligarki Partai Versus Kelompok Kepentingan' di Utan Kayu, Jakarta Timur, Jumat (18/10/19).
Dia menjelaskan mengapa hal ini baru direalisasikan oleh Megawati sekarang. Menurut dia, dalam Pilpres 2014 Megawati melihat figur Jokowi tepat untuk meraih kekuasaan lantaran elektabilitasnya yang lebih tinggi dibandingkan oleh Prabowo. Disamping itu, kata dia, Megawati ingin berkuasa terlebih dahulu.
Keinginan Megawati di tahun 2014 terwujud. Namun Imbasnya, Prabowo menjadi sakit hati dan lebih memilih menjadi lawan. Dijelaskan Hendrajit, saat ini Megawati ingin membayar janjinya di perjanjian Batu Tulis.
"Jadi sebanrnya Megawati itu belum ingkar janji. Dia hanya ingin melihat di momen apa perjanjian Batu Tulis dapat dibayarkan. Megawati itu sosok yang konsisten kalau kita lihat dari sikapnya sejak dulu," terang dia.
Hendrajit membaca, momen 'bulan madu' Mega-Pro ini secara tidak langsung akan menjadikan Jokowi- Ma'ruf Amin sekadar presiden dan wakil presiden bayangan semata. Secara riil politik, kata dia, presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 adalah Megawati dan Prabowo.
Jokowi, dalam hal ini berpotensi hanya akan menjadi eksekutor untuk agenda Mega-Pro 2009. Tentu, jika Jokowi menerima hal ini, kendali sepenuhnya akan berada di kedua sosok tersebut.
Namun demikian, jika Jokowi punya keberanian menolak, akan ada resetensi yang cukup keras dan dilematis bagi pemerintahan Jokowi. Sikap Jokowi akan hal ini bisa dilihat setelah pelantikannya pada 20 Oktober 2019 mendatang.
"Tapi sampai sekarang kita lihat, Jokowi ngikut aja tuh," ungkap dia.
Untuk diketahui, saat maju bersama di Pilpres 2009, Megawati dan Prabowo memiliki perjanjian Batu Tulis yang mereka teken bersama pada 16 Mei 2009. Dalam perjanjian tersebut, ada tujuh poin kesepakatan yang salah satunya adalah Megawati akan mendukung Prabowo di Pilpres 2014.[Tp]
Laporan: Fahri Haidar