Gerindra Coba Ubah Pakem Politik Lama dengan Masuk ke Pemerintahan

Gerindra Coba Ubah Pakem Politik Lama dengan Masuk ke Pemerintahan
Direktur Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. (Foto: telusur.co.id)

telusur.co.id - Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto saat ini tengah gencar melakukan safari politik. Prabowo mendatangi pimpinan partai politik pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Seperti sowan ke PDI Perjuangan, Partai NasDem, PKB, dan hari ini Partai Golkar.

Pengamat Politik Karyono Wibowo menilai, Partai Gerindra saat ini sedang mencoba mengubah pakem politik lama dengan mencoba masuk ke dalam pemerintahan. Menurut Karyono, Ketua Umum Partai Gerindra tengah melakukan eksperimen politik baru.

"Prabowo dan Gerindra mungkin tengah melakukan eksperimen politik baru, dengan masuk ke dalam pemerintahan," kata Karyono saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/19)

Karyono menjelaskan, selama tiga periode pemerintahan sebelumnya, Partai Gerindra hanya berada di luar pemerintahan. Saat ini, Karyono menilai Gerindra akan merubah pakem tersebut.

"Dia ubah pakem politik lama, dimana tiga periode berada di luar pemerintahan hanya berhasil menaikan elektabilitas, tapi gagal mengantar Prabowo naik ke Presiden," ujar Direktur Indonesia Public Institute (IPI) itu.

Oleh karenanya, Karyono melihat, Gerindra ingin melakukan eksperimen dalam berpolitik. Entah nanti hasilnya akan membaik, atau malah justru lebih memperburuk.

"Oleh karena itu perlu eksperimen politik baru, bagaimana jika Gerindra dan Prabowo ada di pemerintahan, apakah lebih baik atau justru lebih buruk," tutur Karyono.

Karyono menuturkan, jika seandainya pemerintahan ke depan yang dipimpin oleh Jokowi gagal dalam melakukan pembangunan terhadap rakyat, sehingga masyarakat tidak puas, maka Gerindra akan menderita kerugian.

Namun sebaliknya, jika pemerintahan dapat menuntaskan pembangunan, dan masyarakat puas, maka Gerindra bisa mendapat manfaat politik yang positif, meski terdistribusi

"Kalau seandainya, pemerintahan Jokowi-Ma'ruf didukung oleh Gerindra gagal melaksanakan pembangunan, kinerja turun, masyarakat tidak puas, maka benefit negatif justru yang didapat, kerugian politik bagi Gerindra," jelas Karyono.

Namun, kata dia, bisa juga menjadi positif, jika pemerintahan baru berhasil menuntaskan pembangunan dan meningatkan kepuasaan terhadap kinerja Jokowi, maka pengusung bisa mendapat manfaat politik yang positif.

"Bisa menguntungkan secara politis, meski itu terdistribusi," pungkasnya. [Fhr]

Komentar

Artikel Terkait