MENGELOLA PARTAI POLITIK DNG MENEJEMEN CLUB BOLA PROFESIONAL EROPAH.: SEBUAH STUDI AWAL          

MENGELOLA PARTAI POLITIK DNG MENEJEMEN CLUB BOLA PROFESIONAL EROPAH.: SEBUAH STUDI AWAL           

Oleh:    Maiyasyak Johan              

 

                                                                                    I.

telusur.co.id- Club bola tanpa bintang pasti tak dilirik iklan, bahkan terancam ditinggalkan supporternya, selain terancam mengalami  degradasi dari devisi I ke devisi II. 

Pelatih & Menejer adalah pihak bertanggungjwb utk  melahirkan & mendatangkan  bintang,  bukan sibuk menjadikan dirinya sebagai satu-satunya bintang. Bila itu yg dilakukan oleh pelatih atau menejer sebuah club, maka dapat dipastikan club  itu bukan saja tak pernah bangkit, bahkan akan bangkrut. 

Karena itu tak heran, bila dalam setiap musim, berbagai cara ditempuh dan dilakukan oleh berbagai Club besar dunia, dan semua itu merupakan investasi mahal, untuk memiliki bintang. ada melalui perkaderan dini, ada juga dengan membeli  pemain yang sudah jadi yg difungsikan sbg magnit utk menstimulir rasa percaya diri pemain lain - termasuk yang muda2 selain utk bukan saja menyabet medali kemenangan, tetapi mempertahankannya. 

Dan itu dijalankan dengan satu ketentuan, yaitu kepatuhan pada aturan club, mulai dari jadwal latihan hingga lainnya. 

Semua usaha di atas itu adalah utk menjadikan club besar dan disegani, terutama utk menorehkan sejarah kejayaannya. Ketika Club menjadi besar serta juara, semua menikmati keuntungannya, suporter tumbuh, iklan berdatangan, harga pemain naik, pelatih terkenal, manejer dikagumi, semua menikmati hasilnya. Jangan lupa kegiatan ekonomi kota pun tumbuh di kota tempat club tersebut berdomisili. sebab semua pernak-perniknya menjadi souvenir yg dicari para pencinta bola. Bayangkanlah berapa besar multiple effeknya.

Bagaimana jika menejemen atau pengelolaan Club Bola Kaki ini dijadikan semacam contoh dalam mengelola partai politik, mungkinkah itu bisa mengangkat dan membuat partai tersebut?. Ini pertanyaan penting yang jarang dikemukakan, saya tak tahu kenapa demikian. 

                                           II.
         
Partai Politik walau lebih kompleks dan tak sama persis dng club bola, tetapi tidak salah untuk melirik bagaimana sebuah club bola dikelola dan menjadi juara. Satu diantare resep mereka adalah berani melakukan perubahan termasuk mengganti pelatih dan menejer bila tak ingin bangkrut dan tutup buku. 

Kisah Bangkrutnya Club Bola Lazio di Italy, Kisah menurunnya Real Madrid pd liga spanyol setelah ditinggal Zinade Zidan dan Ronaldo berbanding lurus dengan naiknya harapan Juventus setelah kedatangan Ronaldo ditambah rasa nyaman Ronaldo karena merasa dibutuhkan, mungkin  bisa dipakai sebagai bahan kajian dan pelajaran oleh partai-partai politik di indonesia, terutama partai-partai politik yang berbasis idiologie-religius. 

Partai2 Politik yang berbasis ideologie-relegius pasca reformasi beberapa saat pernah merasakan sebuah iklim yang membuka harapan. Namun eforia itu perlahan mulai padam, kini mereka seperti kehilangan market bahkan bagai menuju kebangkrutan. Celakanya mereka kembali bergantung pd tali yg dulu sama-sama diputuskan, yakni: oligarki-otoritarian. Bahkan membiarkan tali itu melilit hampir semua kehidupan bernegara. (masalah ini bisa jadi topik tersendiri).

Partai Damai Sejahtera misalnya sudah lebih dahulu menutup sejarahnya.  Alasan utama yg bisa diterima secara rasional adalah karena bagi pendukung idiologie-relegiusnya, Kehadiran PDS itu dilihat tidak taktis dan sulit mencapai tujuan, karena terlalu terbuka, sementara secara sosio-demografis Indonesia mayoritas penduduk Indonesia masih beragama Islam.  Padahal ada pilihan yang lebih taktis dan lebih mudah untuk memperjuangkan dan mencapai tujuan politiknya yaitu dengan masuk ke Partai-Partai Nasional yang tidak berbasis idiologi-relegius, lalu menguasai partai-partai tersebut dan memperjuangkan idiologie-religiusnya dalam baju idiologie nasional. Masuk dan ikut mempengaruhi Partai Partai ini jelas lebih mudah, termasuk masuk ke basis komunitas islam, bahkan potensial mereka bisa terpilih dalam komunitas islam tersebut karena memakai baju nasionalis. Langkah ini ternyata memang sukses, sehingga hampir tak ada satu pun Partai berbasis nasional saat ini yang jabatan strategisnya tidak di-isi oleh mereka. Akibatnya, dari waktu ke waktu, pertambahan jumlah wakil mereka di parlemen bukan sekedar significan, melainkan menentukan. 

Anehnya, Partai2 yang berbasis idiologis Islam yg secara sosio-demografis dan kultural berkaitan erat dengan kondisi demografis indonesia ternyata juga mengalami degradasi bahkan kebangkrutan, paling tinggi cuma bisa bertahan, itu pun sudah melalui jalan akrobatik. Padahal secara psiko-politik ada faktor baru, terutama di tahun 2017 - 2019, yaitu tumbuhnya semangat ke-islaman yang luar biasa - namun itu tidak di-imbangi dengan pertumbuhan perilaku politik elitenya (Pelatih, menejer dan pemain) yang bisa dan mampu mengundang lahirnya kepercayaan pemilih islam. Akibatnya beberapa Partai itu  ada yang terancam bangkrut, bahkan ada yang bangkrut, sedangkan yang bertahan tak menjanjikan harapan bagi umat islam, sebab mereka menjadi bulan-bulanan permainan lawan-lawannya. Nasibnya persis seperti kata pepatah: "bergantung ke atas tak berakar, berpijak dibumi tak berakar". 

Ini semua terjadi karena  hampir rata-rata disebabkan karena Pelatih & menejer, pengurus dan pemainnya entah sadar atau tidak menjadikan dirinya sbg satu-satunya bintang, akibatnya kelahiran bintang-bintang baru baik yang berasal dari hasil pendidikan internal sangat langka, sedangkan hasil semaian dari lembaga terkait merasa enggan - karena iklim yang ada selain tidak menjanjikan, tujuan berpolitik pun telah hilang -  mereka cuma berburu kekuasaan, tapi ketika dapat tak pernah bisa menaklukkan dan mengendalikannya, melainkan ikut hanyut sebagaimana dulu dikritiknya.

                                        III

Saya tak tahu apakah situasi ini ikut mendorong atau ada faktor lain, seperti perpecahan dan lain sebagainya, akhir-akhir ini muncul semangat dikalangan umat islam utk melahirkan Partai yang lebih jelas garis idiologisnya di satu sisi dan disisi lain lebih terbuka. 

Terlepas apakah lebih idiologis atau lebih terbuka, lahirnya sebuah organisasi Islam yang terpercaya diperlukan. Kata terpercaya disini jangan dikaitkan dengan popularitas semata, melainkan rekam jejak keberpihakannya yang diakui rakyat dan umat islam. 

Umat islam memerlukan pemimpin-pemimpin yang terpercaya dan bisa dijadikan teladani. Tokoh yg dibesarkan media massa mainstream bukan pilihan. Kehadiran ulama yg istiqomah duduk di dalam Majelis syuro sangat diperlukan, begitu juga eksekutif yg bukan saja brilian, tetapi memahami sejarah dng baik, sehingga tidak terjebak pada romantisme sekterian organisasi asal. Kata kunci utamanya adalah ketaatan pada aturan dan cita-cita politik merupakan ukuran yg tidak boleh dikesamping dengan alasan apa pun. Sebab hampir semua yang bangkrut itu melanggar AD/ART-nya dan menjadikan pandangan subjektifnya sebagai ukuran. 

Kebangkitan itu mustahil tanpa ketaatan pada aturan dasar organisasi. Dengan kata lain para pemimpinnya jangan memiliki perilaku: tiba dimata dipicingkan, tiba diperut dikempiskan. sifat seperti itu sangat tidak islami. 

                                       IV. 

Kita tak tahu kapan lahirnya partai itu, tetapi agaknya tak salah kita ucapkan selamat datang. Bawalah paradigma dan kultur baru untuk membangun umat, bangsa dan negara. Jangan biarkan bintang yang ada terbuang percuma, bintang baru merumput ke tempat orang lain. sehingga tak ada lagi yang menjaga kampung halamanmu. 

Jakarta, 
30 september 2019 

 

Komentar

Artikel Terkait