Warga Diminta Waspadai Ancaman Penyakit dan Resistensi Antibiotik Ternak

Warga Diminta Waspadai Ancaman Penyakit dan Resistensi Antibiotik Ternak

Telusur.co.id -Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, bersama Unit Khusus Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa di bidang Kesehatan Hewan (FAO ECTAD Indonesia) meminta, masyarakat untuk mewaspadai ancaman penyakit dan resistensi antibiotik.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementan, Syamsul Ma’arif, saat memberikan kuliah umum di Universitas Nusa Tenggara Barat, bersama FAO ECTAD Indonesia dan lintas sektor .

Kegiatan untuk membahas berbagai isu penting dalam kesehatan global yaitu resistensi antimikroba (antimicrobial resistance- AMR), penggunaan antimikroba (antimicrobial usage- AMU), penyakit infeksi baru/berulang (PIB) serta penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya (zoonosis) ini telah berlangsung sejak 2017 dan diselenggarakan dengan dukungan dari USAID.

“Saat ini masyarakat masih belum memahami bahaya dari AMR/AMU, penyakit infeksi baru dan zoonosis,” kata Syamsul dalam keterangannya, Minggu (7/4/19).

Menurut dia, perguruan tinggi (PT) itu memiliki peran penting dalam upaya peningkatan kesadaran masyarakat. Civitas academica, sebagai calon tenaga kesehatan profesional, serta agen perubahan di masa depan, harus memperoleh pengetahuan terkini mengenai tantangan kesehatan yang membutuhkan komitmen bersama pada lintas sektor dan lintas organisasi.

Senada dengan itu, Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, Fadjar Sumping Tjatur Rasa menjelaskan, terjadinya resistensi antimikroba tidak terlepas dari penyimpangan dalam penggunaan antimikroba di sektor peternakan. Seperti, penggunaan antibiotic growth promotor (AGP), penggunaan antibiotik untuk pencegahan tanpa pengawasan dokter hewan serta kelemahan dalam diagnosa penyakit sehinga pengobatan tidak tepat.

Oleh karena itu, PT juga harus membekali para mahasiswa tentang bagaimana penggunaan antimikroba secara bijak dan bertanggung jawab.

Team Leader FAO ECTAD, James McGrane, dalam kuliah umum tersebut, mengapresiasi keterlibatan mitra lintas sektor dan lintas lembaga, antara lain Kementan, khususnya Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, Kemenko PMK, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yayasan Orang Tua Peduli, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI), Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

“Dengan menghadirkan berbagai pembicara dari sektor kesehatan hewan, kesehatan manusia serta kesehatan lingkungan dan satwa liar, FAO ingin membangun pendekatan One Health di Indonesia yang mengutamakan koordinasi, kolaborasi dan komunikasi,” jelasnya.[Ham]

Komentar

Artikel Terkait