Tekan Hoax Dengan Pendidikan Politik Media

Tekan Hoax Dengan Pendidikan Politik Media

Telusur.co.id -Staf Ahli Sekjen Kominfo, Hendrasmo mengatakan bahwa hoaks kita sedang berada dalam taraf mengkhawatirkan. Sebab, Hoaks semakin meningkat. Sangat bahayakan demokrasi, Kominfo awal Maret lalu, kuantitas hoaks sejak Agustus 2018 – Februari 2019 jumlahnya 771 hoaks.

Ada 3-4 hoaks tiap harinya. Awal Maret lalu hoaks di bulan Februari kita kumpulkan ada 350an hoaks. Setidaknya tiap hari ada 10 hoaks. Hoaks belasan hari ada 220 hoaks. Tiap hari kita jaring dan garab dari AI Kominfo.

“Hoaks itu paling banyak serang pemerintah, Calon Presiden – Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) kemudian Menteri-menteri,” ucap Hendrasmo dalam diskusi dengan mengangkat tema, “Peran Media Massa Dalam Pendidikan Politik Guna Melawan Hoaks dan Menekan Angka Golput Dalam Pemilu 2019” yang digelar oleh Pustaka Institute di Tjikini Lima Resto and Caffe jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat.

Selain itu, ia menyebut politik dan Suku, Ras, Agama, dan Antar golongan (SARA) adalah Big issue hoaks.

Menurutnya, seberapa sering masyarakat dapat hoaks tiap hari ; 44,1% terima hoaks tiap harinya dan saya yakin sekarang sudah semakin meningkat.

“Masyarakat memahami hoaks? Ternyata mayoritas hoaks susah diidentifikasi mana benar mana hoaks. Kira-kira 75,25% katakan tidak yakin identifikasi hoaks. 24% saja yang bisa identifkasi hoaks,” jelasnya. Minggu, (07/4/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Biro Hukum Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), Setya Indra Arifin mengatakan banyak non voting behavior (kalangan golput). KPU lakukan pendidikan politik bagi pemilih.

Menurut dia, banyak produsen penyebar hoaks, namun itu bagian dari ciri keterlibatan aktif masyarakat terhadap pemilu. Tapi yang diharapkan keterlibatan pemilih sejalan dengan hari-H ada partisipasi aktif.

“Hoaks ini mendelegitimasi dalam tingkat paling parah dalam proses penyelenggaraan pemilu,” ucapnya.

Oleh karena itu, memberantas akun-akun penyebar hoaks sangat tidak mungkin saya rasa, tapi yang bisa kita lakukan, ketika kita dibanjiri hoaks, kita banjiri juga dengan narasi-narasi positif.

Tidak hanya itu, Pengamat Intelijen Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS), Ngasiman Djoyonegoro menjelaskan bahwa, komponen utama yang harus kita waspadai sebagai ancaman pemilu, yakni, hoaks, fake news, dan hate speech.

“Pasca 2014 hoaks itu selalu muncul. Ketika isu hoaks dikaitkan sistem politik itu akan jadi kebisingan sistem politik sekarang ini,” pungkasnya

“Sekarang ini lakukan psywar. Satu sama lain itu ilmunya sama dan mereka saling hantam. Apalagi sekarang peserta kontestannya ada 2, maka substansinya tidak terlihat dan hanya sentimen verbal saja yang muncul termasuk sentimen SARA, siapa yang islam dan siapa yang kafir,” imbuhnya.[far]

Komentar

Artikel Terkait