Telusur.co.id -Anggota Komisi III DPR, Teuku Taufiqulhadi menegaskan Pancasila sudah menjadi harga mati bagi Indonesia. Tidak boleh ada satu pihak pun berani mengubah ideologi bangsa. Apalagi jika khilafah ingin diterapkan.
Taufiqulhadi secara tegas menolak karena mengkhianati para pendiri bangsa, termasuk kalangan ulama. Konsep khilafah tidak perlu diberi ruang di Indonesia.
“Kalau masih ada yang mau menerapkan khilafah di Indonesia, itu sama saja mengkhianati para pendiri bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya para ulama besar, KH Agus Salim, KH Wahid Hasyim, dan ulama-ulama lain yang juga pahlawan nasional,” ujar Taufiqulhadi kepada wartawan, Rabu.
Dikatakan dia, konsep khilafah sudah tidak laku. Di Arab saja sudah tidak laku sistem khilafah, apalagi di Indonesia yang menganut sistem Pancasila.
“Kalau kita sejajarkan di peta, ujung Aceh sampai ujung Papua itu sama dengan dari Yerusalem sampai ke London, mana ada kekhalifanan yang sebesar itu? Ini Indonesia sudah merupakan rahmat dari Allah SWT, kita dulu ada kerajaan-kerajaan di Indonesia, sudah diperastukan, jadi satu negara yang besar kok malah ada yang mau khilafah, sangat tidak relevan,” tegasnya.
Dihubungi terpisah, anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny mengatakan Pancasila mulai diaplikasikan lewat generasi milenial yang mudah terserang paham radikalisme. Langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sudah tepat karena menyasar generasi kekinian. “Ideologi itu harus dilawan dengan idelogi,” tuturnya.
Selain itu yang penting, lanjut dia, bagaimana mengakses Pancasila yang juga harus aplikatif. Contoh yang penting Pemerintahan Jokowi itu mengaktualisasikan sila ketiga dan sila kelima.
“Pembangunan infrastruktur Sumatera, Sulawesi itu kan mempersatukan Indonesia. Harga-harga kan jadi murah, nah itu kan keadilan sosial,” tuturnya.
Jadi, lanjutnya, Pancasila itu bukan diomongkan dan slogan tetapi dilakukan. Menurutnya, ada orang yang melakukan Pancasila Sila kesatu, kedua, ketiga, keempat dan kelima.
“Namun, tidak berurutan. Orang itu menjiwai Pancasila dalam berperilaku jujur, integritas, disiplin, kerja keras dan hidup saling menghargai perbedaan,” tuturnya.
Mengenai kemunculan intoleransi, kata dia, itu karena Pancasila dilupakan orang. Padahal, harusnya rakyat Indonesia bersyukur karena memiliki Pancasila yang mampu mempererat. Kemudian, mengenai isu khilafah, Romo Benny melihat tak perlu menjadi polemik lagi. (ham)