Jakarta | Sepak terjang Presidium Alumni 212 belakangan ini ramai menghiasi pemberitaan sejumlah media, namun tak banyak yang tahu bagaimana proses munculnya kelompok gerakan ummat Islam yang satu ini. Bahkan ada sebagian yang memandang bahwa kelompok ini merupakan sempalan dari GNPF-MUI.
Adanya pandangan yang menyebutnya sebagai gerakan sempalan ini, ditampik Ketua Presidium Alumni 212. Menurutnya isu tersebut digenbar-gemborkan oleh meraka yang tidak suka Islam bersatu dan masif dalam pergerakan.
“Pada dasarnya PA 212 merupakan salah satu jamaah juang yang menuntut dengan jalan dan isu yang jelas, yaitu bela Ulama,” tegas Ustadz Sambo, Senin (3/7) saat gelar Fokus Diskusi Group WA Masyumi Muda.
Lalu apa bedanya dengan GNPF-MUI ? Menurut penuturan Sambo sama sekali tidak ada bedanya. Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI, lebih jauh disebutkan Sambo pada dasarnya sudah dapat dikatakan tugasnya selesai, seiring dengan ditangkapnya Ahok. “Namun perjuangan pasca ditangkapnya Ahok yang belum selesai, karena rezim penguasa kemudian malah banyak mengkriminalisasi para ulama, dan di ranah itulah Presidium Alumni 212 berjuang,” ungkapnya.
Untuk memberikan pemahaman utuh latar belakang maupun orientasi pergerakan Presidium Alumni 212, Ustad Sambo didampingi Sekretaris, Ustad Hasri Harahap, menceritakan kembali proses lahirnya yang erat kaitannya dengan gerakan Tamasya Al-Maidah jelang pencoblosan putaran kedua Pilgub DKI yang lalu.
“Berawal dari TAM (Tamasya Almaidah) yang seharus dilaksanakan oleh Gema Jakarta (sayap perjuangan GNPF yang khusus memenangkan gubernur muslim Jakarta) dibawah komando Ustad zaitun Rasmin (UZR),” ujarnya mengawali cerita latar belakang munculnya PA 212.
Tapi karena pertimbangan satu dan lain hal, terutama pertimbangan keamanan terkait pernyataan polisi yang memperingatkan jika terjadi kerusuhan, maka para pelaksana TAM akan dimintai pertanggungjawabannya, TAM urung dilaksanakan oleh GEMA Jakarta
Namun demikian, mengingat begitu sangat pentingnya TAM dalam mengawal suara di TPS-TPS agar tidak terjadi kembali kecurangan-kecurangan di putaran kedua pilkada DKI seperti pada putaran pertama, akhirnya Habib Rizieq Shihab menunjuk Ustad Sambo dan Ustad Hasri sebagai Komandan TAM.
Penunjukkan ini disebutkan pimpinan PA 212, karena dianggap berhasil sebagai komandan dalam Aksi 313 dengan aman, damai dan tertib di bundaran patung kuda, dimana saat yang sama ustad Al-Khaththoth ditangkap dan ditahan sampai saat ini.
Saat itu, kenang Sambo seminggu sebelum pencoblosan putaran kedua, diputuskan TAM ditangani oleh alumni 212 saja. Tapi karena alumni 212 cakupannya terlalu besar, maka sedikit diperkecil dengan tetap menggunakan Alumni 212, akhirnya jadilah Presidium Alumni 212. Tiga hari sebelum pencoblosan putaran kedua Pilkada DKI (17 April 2017) kemudian dideklarasikan Presidium Alumni 212 sebagai pelaksana TAM, di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan, dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Pak Amien Rais, Habib Idrus Jamalul Lail, Eggy Sudjana, Moh Siddik dari DDII dan lain-lain.
“Alhamdulillah dengan pertolongan Allah akhirnya TAM dibawah pelaksana Presidium Alumni 212 dapat terlaksana dengan aman, damai, tertib tidak terjadi kerusuhan. dan Anis Sandi berhasil memenangkan PILKADA Jakarta,” ujarnya.
Di dalam perjalanannya, berbagai demo yang di adakan setelah Aksi Bela Islam 212 dan 112 di Istiqlal, GNPF-MUI sudah tidak ikut dalam aksi-aksi tersebut. Mulai dari aksi 212 jilid 2, aksi 313 sampai TAM.
“Bahkan akhir puncaknya pada Aksi 505, aksi yang seharusnya di lakukan di depan Mahkamah Agung, malah hanya dipusatkan di Istiqlal saja oleh GNPF, hanya sebagian kecil yang akhirnya melakukan aksi di depan MA,” ujarnya.
Walaupun Aksi di depan MA ini dikuti oleh UBN (UZR dll mengawal massa di Istiqlal agar tidak turun ke MA, tapi nilai ruhiyah perjuangan UBN saat memberikan orasi di depan MA sudah mulai mengendur.
Mulai saat itulah peran Presidium Alumni 212, semakin besar untuk memupuk semangat perjuangan Aksi bela Islam yang mulai agak melemah dibawah komando GNPF. “Gerakan Presidium Alumni 212 sendiri, semuanya direstui oleh HRS agar api (bara) perjuangan menegakkan Surat Almaidah 51 ini tidak boleh meredup apalagi sampai padam, na’udzubillah,” ungkapnya.
Jika GNPF-MUI yang dibentuk bertujuan untuk mengalahkan Ahok di pilkada bahkan memenjarakannya sudah tercapai, tapi akibatnya kemudian tokoh-tokoh GNPF-MUI justru dikriminalisasikan. “Maka disinilah peran Presidium Alumni 212 berjuang untuk membela dan menyelamatkan para ulama, aktivis serta ormas Islam yang dizolimi oleh rezim penguasa, sebagai aksi balas dendamnya atas kekalahan dan dipenjarakannya Ahok,” pungkasnya. | red-03 |