telusur.co.id - Semestinya survei yang dilakukan sejumlah lembaga dalam memetakan suatu kasus tidak boleh sembarangan. Karena, ada metode-metode yang harus dipenuhi yakni tingkat pemahaman yang di sampling sama.
"Persyaratan utama sampling dalam statistik bahwa populasi yang disampling harus homogen. Artinya, tingkat pemahamannya terhadap yang disurvey adalah sama," cuit eks Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, dalam akun twitter-nya, Senin (17/2/2020).
Pernyataan Sai Didu ini menanggapi hasil Survei Indo Barometer yang dirilis mengenai penanganan banjir DKI Jakarta.
Dalam survei itu disebutkan bahwa penanganan masalah banjir DKI dianggap berhasil di era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Total ada 40 responden yang mengamini itu. Kemudian disusul Joko Widodo dengan 25 persen dan Anies Baswedan dengan 4 persen.
Survei yang digelar tanggal 9-15 Januari ini dipertanyakan oleh kalangan masyarakat karena sampel yang digunakan bukan dari warga DKI. Sebanyak 1.200 responden survei dipilih secara acak dari 34 provinsi di Indonesia.
Said Didu menganggap, ada ketidaksinambungan antara responden dengan kasus yang dikulik oleh lembaga survei.
Said Didu pun mewanti-wanti agar setiap ilmu yang dimiliki tidak digunakan untuk membodohi orang lain. "Tidak mungkin orang Sulawesi pemahaman tentang banjir Jakarta sama dengan orang Jakarta. Janganlah gunakan ilmu untuk menipu! Dosanya besar," ingatnya.
"Wahai tukang survey, kalau mau jadi gila, gilanya yang serius dong," tulisnya. [Asp]
Laporan : Tio Pirnando