telusur.co.id - Sejak Sandiaga Salahuddin Uno mengundurkan diri, kursi wakil gubernur DKI Jakarta masih kosong. Direktur Laboratorium Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Usni Hasanudin sangat menyayangkan kalau kekosongan posisi Wagub Anies terus berlarut.
“Kita sangat menyayangkan sampai saat ini Anies belum memiliki siapa pengganti Sandiaga Uno,” ungkap Usni kepada wartawan di Jakarta, Jumat.
Meskipun secara kinerja sosok Anies mampu menjalankan dengan baik, namun dari perspektif pemerintahan maupun sistem politik itu tidak baik. Anies tidak boleh hanya menonjolkan sosok dirinya. Anies harus pula memberikan edukatif politik atau pendidikan politik pada masyarakat.
“Secara sistem pemerintahan, pendidikan politik itu jauh lebih penting,” ujar Usni.
Diterangkan dia, meskipun dalam perundangan tidak haramkan bahkan tidak menutup kemungkinan itu dibolehkan akan tetapi akan menjadi yurisprudensi dan pendidikan politik yang kurang baik. “Bisa saja kasus DKI Jakarta dicontoh daerah lain, kalau Jakarta yang hanya memiliki kepemimpinan tunggal.”
Dari sisi pendidikan politik, lanjut Usni, yang saat ini juga sebagai Ketua Bidang Politik dan Hub Antar Lembaga Bamus Betawi berlarutnya persoalan posisi Wagub memperlihatkan adanya hubungan yang tidak baik antara partai pengusung, DPRD dan Anies sendiri. Akibatnya pendidikan politik bagi masyarakat tidak berjalan.
Sebaiknya, Usni menyarankan agar dibalik kesuksesan Anies dalam membangun Jakarta harus seiring sejalan dengan edukatif politik masyarakat. Begitupun juga untuk DPRD yang memiliki kewenangan untuk memutuskan.
“Dengan keanggotaan DPRD dan Pimpinan DPRD yang baru tugas yang harus segera diselesaikan adalah mendukung kinerja Anies untuk segera menetapkan pengganti Sandiaga Uno,” tuntasnya. [Ham]