telusur.co.id - Krisis air bersih sebagian Jakarta, menunjukkan potensi sumber daya air belum dikelola secara optimal.
Begitu pendapat pengamat Tata Kota, Nirwono Joga dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (25/10/2019)
Hal itu sekaligus menanggapi krisis air bersih di RT02 RW03 Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.
Sebenarnya, Jakarta tidak perlu mengalami kekeringan atau kesulitan air bersih jika semua potensi sumber daya air dikelola dengan optimal.
Pengamat Universitas Trisakti itu mengatakan, banjir pada musim hujan menunjukkan bahwa Jakarta sebenarnya mengalami kelebihan pasokan air.
Pasokan air dari hujan melimpah hingga terjadi banjir di sejumlah daerah, namun belum dikelola dengan baik sehingga terbuang percuma ke laut.
"Harusnya musim hujan dioptimalkan untuk memanen air ditampung semuanya," katanya.
Nirwono mengatakan instansi terkait di Jakarta bisa mengelola situ, danau, embung atau waduk di wilayahnya sebagai sumber air bersih.
"Situ, danau, embung, atau waduk di DKI yang berjumlah 109, serta 13 sungai utama bisa dikelola agar bebas sampah dan limbah serta ditampung sebagai sumber air bersih," katanya.
Jika hal itu kurang, kata dia, ada teknologi desalinasi atau pengurangan kadar garam air laut di pantai utara Jakarta.
"Halaman parkir dan taman juga bisa disediakan kantong-kantong air cadangan," katanya. [asp]
Laporan: Saeful Anwar