Wabah Ebola yang menyebar di Afrika Barat telah menewaskan lebih dari 11.000 orang sejak 2014 dan setahun terakhir tidak terdeteksi lagi.
Kemarin, kasus Ebola kembali muncul di wilayah Goma, Republik Demokratik Kongo. Korbannya adalah seorang pendeta.
Kementerian Kesehatan negara itu pun menjelaskan kronologinya seorang pendeta yang sakit tiba di kota dari Butembo dengan bus hari Minggu. Virus itu pertama kali menyerang Butembo, sebuah kota berpenduduk lebih dari 100.000 orang, September lalu.
Padahal, risiko penyebaran penyakit di Goma rendah, kata kementerian, karena pasien dengan cepat diisolasi dan dipindahkan ke pusat perawatan Ebola.
Kementerian mengatakan sopir bus dan 18 penumpang lainnya akan divaksinasi pada hari Senin.
“Meskipun bukan berita yang disambut baik, itu adalah sesuatu yang telah kami antisipasi sejak lama,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, dilansir CNN.
“Kami telah melakukan pekerjaan intensif untuk mempersiapkan Goma sehingga setiap kasus diidentifikasi dan ditanggapi dengan segera.”
Untuk mengantisipasinya, kementerian kesehatan telah melakukan vaksinasi terhadap petugas kesehatan yang ada di wilayah tersebut.
“Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, 3000 pekerja kesehatan telah divaksinasi di kota ini saja,” tweetnya.
Wabah yang sedang berlangsung di DRC, di mana lebih dari 1.600 orang telah meninggal, adalah wabah Ebola terbesar kedua dalam sejarah. Ketidakpercayaan pada lembaga medis dan pemerintah berkontribusi pada penyebaran wabah, karena orang tidak mendapatkan perawatan, tinggal di rumah dan sekarat. Tubuh mereka masih sangat menular dan mematikan bagi anggota keluarga yang menguburkan mereka. [Ham]