telusur.co.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat mengumumkan gencatan senjata militer di Idlib. Keputusan itu disepakati setelah pertemuan enam jam.
Putin berharap kesepakatan itu akan berfungsi sebagai dasar yang baik untuk mengakhiri pertempuran di zona de-eskalasi Idlib. Dan bisa mengakhiri penderitaan penduduk sipil. Yang lebih penting, bisa mengakhiri krisis kemanusiaan yang berkembang.
Erdogan mengatakan kedua pemimpin sepakat untuk membantu para pengungsi ini kembali ke rumah mereka. Turki dan Rusia pada hari Kamis juga sepakat untuk membangun koridor aman di sepanjang jalan raya timur-barat di Idlib Suriah dan mengadakan patroli bersama di sana pada 15 Maret.
Dalam pernyataan bersama yang dibacakan oleh menteri luar negeri Turki dan Rusia, kedua belah pihak mengatakan koridor aman akan membentang 6km (3,7 mil) ke utara dan 6km ke selatan jalan raya M4. Mereka mengatakan menteri pertahanan mereka akan menyetujui parameter koridor dalam waktu seminggu.
Namun, gencatan senjata dinodai oleh sikap militer Turki. Ketika gencatan senjata mulai berlaku, kantor berita Turki Anadolu milik pemerintah melaporkan pada hari Jumat pagi bahwa pasukan Turki membunuh 21 tentara Suriah dan menghancurkan dua artileri dan dua peluncur rudal, sebagai pembalasan atas pembunuhan dua tentara Turki di Idlib sebelumnya pada hari Kamis. .
Diketahui, Idlib adalah wilayah yang dikuasasi oleh pemberontak Suriah. Erdogan menambahkan bahwa Turki, yang telah mengirim ribuan tentara ke Idlib untuk mengusir tentara Suriah, tidak akan "diam" jika pasukan pemerintah Suriah melanjutkan serangan dan memperingatkan bahwa Ankara akan membalas dengan kekuatan penuh.
Hampir satu juta orang telah terlantar secara internal ke perbatasan dengan Turki, sebagian besar dari mereka terpaksa berkemah di tempat terbuka - krisis kemanusiaan terburuk dalam perang saudara sembilan tahun Suriah, menurut PBB. [ham]