telusur.co.id - Kelompok Islam al Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas ledakan bom di Mogadishu yang menewaskan sedikitnya 90 orang selama akhir pekan, kemarin. Pemboman itu adalah yang paling mematikan dalam lebih dari dua tahun di negara yang dihancurkan oleh hampir tiga dekade kekerasan Islam dan perang saudara.
Dalam sebuah pesan audio, sekutu al Qaeda, al Shabaab mengaku bertanggung jawab atas pemboman di pos pemeriksaan Ex-Control di barat laut Mogadishu.
"Ledakan itu menargetkan konvoi pasukan Turki dan Somalia dan mereka menderita kerugian besar," kata Ali Mohamud Rage, juru bicara al Shabaab dalam pesannya.
Rage menuduh Turki atau "mengambil semua sumber daya Somalia" dan bersumpah untuk terus menargetkan personel mereka di negara itu.
"Kami akan selalu bertarung... Turki yang bekerja dengan pemerintah Turki yang murtad. Kami tidak menentang yang tidak bersalah. Warga Muslim Turki, "katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Somalia telah menjadi arena persaingan militer dan diplomatik antara Turki dan Qatar di satu sisi dan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di sisi lain.
Al Shabaab sering melakukan pemboman untuk mencoba merongrong pemerintah pusat Somalia, yang didukung oleh pasukan penjaga perdamaian PBB dan Uni Afrika.
Serangan paling mematikan yang dituduhkan kepada al Shabaab adalah pada tahun 2017 ketika sebuah bom truk meledak di sebelah sebuah tanker bahan bakar di Mogadishu, menewaskan hampir 600 orang. [ham]