Terkait Perang Terhadap Corona, Hizbullah Sebut Trump Pembohong Besar

Terkait Perang Terhadap Corona, Hizbullah Sebut Trump Pembohong Besar
Sekjen Hizbullah Libanon, Sayyid Hassan Nasrallah.

telusur.co.id - Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah menyinggung berbagai persoalan, termasuk moral, keagamaan, dan kemanusiaan, dalam penanggulangan wabah virus corona (COVID-19) di Libanon, dan mengimbau kepada semua pihak agar tidak bersikap sektarian dalam menghadapi fenomena ini.

“Tidak seharusnya pendekatan (terhadap masalah) corona bertolak dari faktor mazhab ataupun ras, kita sedang berhadapan dengan perang kemanusiaan secara total, dan kitapun harus menjalaninya dengan pendekatan kemanusiaan secara total,” kata Nasrallah dalam pidatonya yang ditayangkan secara langsung oleh saluran TV al-Manar, Jumat (13/3/20) malam.

Dia juga mengatakan, dalam perang ini ada musuh dan target. Bagi pihak yang menjadi target haruslah bangkit melawan musuh. 

"Dalam setiap peperangan, sebagai kita mendapat pengalaman dari resistensi (anti-Israel) dan setiap pengalaman perang, musuh haruslah terdeteksi dan jelas,” ungkapnya.

“Masalahnya, virus corona yang baru bagi dunia ini masih menjadi unsur yang misterius di sebagian besar aspeknya, dan sejauh ini masih terus dilakukan analisa untuk pengobatan atau vaksinnya. Karakteristik musuh ini masih tidak diketahui, bahayanya baru jelas beberapa pekan lalu, ancamannya luas dan menyasar jiwa manusia,” terang Nasrallah.

Tokoh pejuang berserban hitam sebagai tanda keturunan Rasulullah saw ini mengapresiasi transpransi Kementerian Kesehatan Libanon dalam penyampaian informasi mengenai wabah corona. Dia juga meminta kepada siapapun yang merasakan gejala infeksi virus ini untuk segera memeriksakan diri dan bersedia diisolasi.

Menurut Nasrallah, berusaha menjaga kesehatan diri, keluarga, dan orang-orang lain merupakan kewajiban syariat.

“Ini merupakan kewajiban diniyah dan syariat, pada hari kiamat anda akan diminta pertanggungjawaban, dan siapa yang melanggar maka dia telah berbuat maksiat dan tidak akan masuk dalam lingkaran mustajabah,” terangnya.

Dia juga menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai pembohong terbesar di tengah gempita wabah corona.

“Pembohong terbesar dalam perang melawan corona adalah Presiden AS Donald Trump dan wakilnya, Mike Pence, serta tim AS yang menindaklanjuti masalah ini,” ungkapnya.

Dia pun menilai Trump sebagai sosok munafik karena “mengaku hendak membantu Iran terkait dengan corona”, padahal “orang yang memang hendak membantu seharusnya mencabut sanksi-sanksi (terhadap Iran) di bidang kedokteran dan kesehatan”.

Pemimpin gerakan Islam Libanon anti AS dan Israel ini menyatakan bahwa strategi terbaik dalam melawan wabah ini ialah penghentian kerumunan sedapat mungkin.

Kementerian Kesehatan Libanon, pada Jumat (13/3/20) mengumumkan bahwa positif corona di negara ini berjumlah 77 kasus.

Mengenai kerjasama dengan IMF dan lain-lain, menyatakan pihaknya tidak melarang kerjasama dengan lembaga moneter internasional itu, “melaikan menolak ketundukan kepada pesanan pihak manapun.”

Dia juga menegaskan Hizbullah tidak menghalangi pemerintah berkonsultasi dengan siapa dan pihak manapun di dunia yang hendak memberikan bantuan tanpa syarat dan sesuai dengan ketentuan pemerintah Libanon

Nasrallah menyerukan keharusan menimba pengalaman dari negara-negara lain demi meningkatkan efektivitas upaya Libanon dalam penanggulangan wabah corona.  [Tp]

 

 

Komentar

Artikel Terkait