telusur.co.id - Seorang pejabat militer Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa Pentagon dewasa ini sedang mempelajari kemungkinan penyesuaian pada postur pertahanannya di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap sasaran AS di Irak beberapa waktu lalu.
Pejabat yang tak mau disebutkan namanya itu, dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada Kamis malam (9/1/20) mengatakan, bahwa AS memperkirakan Iran masih akan melancarkan serangan untuk membalas terbunuhnya mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Qassem Soleimani, tapi di negara lain, bukan di Irak lagi.
Pada hari Minggu lalu, Reuters melaporkan bahwa AS telah mendeteksi pasukan rudal Iran di seluruh penjuru nagara ini telah ditempatkan dalam keadaan siaga tinggi. Tapi, menurut pejabat itu, Iran dinilai lebih berkemungkinan menyerang posisi AS di negara-negara selain Irak di mana Iran memiliki beberapa sekutu berpengaruh.
Seperti diketahui, pasukan IRGC pada Rabu lalu membombardir pangkalan-pangkalan militer AS di Irak sebagai pembalasan atas terbunuhnya Soleimani.
Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Amir Ali Hajizadeh dalam jumpa pers, Kamis (9/1/20), memastikan lagi bahwa puluhan tentara AS tewas terkena gempuran rudal Iran.
Dia juga menyebutkan nama negara Yordania dan Kuwait saat menjelaskan pangkalan-pangkalan udara yang dipakai oleh AS di kawasan sekitar dalam melancarkan serangan “teror” yang menewaskan Soleimani.
AS menyangkal ada tentaranya yang tewas. Ketika mengumumkan bahwa Iran telah meluncurkan 16 rudal dari tiga lokasi, Pentagon menyebutkan bahwa sistem peringatan dini memungkinkan untuk menghindari korban. [Tp]