telusur.co.id - Presiden Suriah Bashar al-Assad berjanji akan melanjutkan serangan ke wilayah Idlib yang selama ini diduduki kubu pemberontak. Suriah bertekad mengambil alih wilayah tersebut.
Menurut Assad, perang belum berakhir tanpa meraih "kemenangan penuh" di Idlib. Kemenangan sudah di depan mata.
"Pembebasan ini tidak berarti akhir perang dan itu tidak berarti akhir skema atau akhir terorisme atau penyerahan musuh dan itu tidak berarti musuh kita akan menyerah," katanya.
"Kita seharusnya tidak beristirahat, tetapi terus mempersiapkan diri untuk pertempuran yang akan datang, dan oleh karena itu, pertempuran pembebasan desa Aleppo dan Idlib akan terus berlanjut."
Serangan pemerintah Suriah yang didukung Rusia telah menggusur 900.000 orang sejak awal Desember. Perserikatan Bangsa-Bangsa, memperingatkan jika perang di Idlib pecah akan terjadi krisis "mengerikan". Sebab, di wilayah pengungsian suhu yang sangat dingin dan mengakibatkan bayi bakal sekarat karena kedinginan.
Serangan itu telah mengganggu kerja sama rapuh antara Turki dan Rusia, yang mendukung pihak-pihak yang berselisih dalam konflik tetapi telah berkolaborasi menuju apa yang mereka katakan sebagai solusi politik untuk perang yang hampir sembilan tahun.
Ankara, yang mendukung beberapa kelompok pemberontak Suriah di barat laut, telah marah sejak serangan Suriah di provinsi Idlib menewaskan 13 tentara Turki dalam dua minggu. Mereka telah menyerukan Moskow untuk menghentikan serangan, memperingatkan akan menggunakan kekuatan militer untuk mengusir pasukan Suriah kecuali mereka menarik diri pada akhir bulan.
Turki, sejauh ini, telah mengirim ribuan tentara dan ratusan konvoi peralatan militer untuk memperkuat pos pengamatannya di Idlib, yang didirikan berdasarkan perjanjian de-eskalasi 2018 dengan Rusia.
Dalam pidatonya, al-Assad juga menyinggung peringatan Ankara, mengatakan serangan itu akan terus berlanjut meskipun "suara-suara kosong yang datang dari utara". [ham]