telusur.co.id - Ratusan ribu warga Irak meneriakkan "Matilah Amerika" saat prosesi pemakaman Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)Jenderal Qassem Soleimani dan kepala pasukan anti-teror Irak Abu Mahdi al-Muhandis di Baghdad.
Pembunuhan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap dua komandan di bandara Baghdad pada dini hari Jumat (3/1/20) itu telah memicu gelombang kemarahan di Iran dan Irak, dan membentuk kesatuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan seruan gencar untuk membalas dendam.
Baik Soleimani maupun Muhandis adalah tokoh populer dalam membantu memadamkan kebangkitan Daesh atau ISIS yang tidak menyenangkan yang pernah mencapai 30 km ke Baghdad, sementara AS menarik pasukan dari Irak dan melihat.
Gambar-gambar komandan Iran yang ditandai dengan para pejuang Irak di garis depan ketika pertempuran sengit melawan teroris ISIS berlangsung terus-menerus terukir di benak banyak orang Irak.
Kehadiran besar-besaran mereka di pemakaman hari Sabtu ini adalah kesaksian atas popularitas Soleimani di antara banyak warga Irak dan pesan kepada AS yang membuat mereka tinggal di negara Arab lebih tidak disukai dengan pembunuhan di luar proses pengadilan, kata pengamat.
Secara keseluruhan, 10 orang yakni lima warga Irak dan lima warga Iran, tewas dalam serangan Jumat pagi atas iring-iringan mobil mereka di luar bandara Baghdad ketika Soleimani tiba dari Suriah, yang mengarah ke spekulasi bahwa intelijen Israel berperan.
Pada hari Sabtu, Perdana Menteri Irak Adel Abdel Mahdi bergabung dengan rekan Muhandis Hadi al-Ameri, ulama senior Ammar al-Hakim dan tokoh-tokoh penting lainnya dalam kerumunan besar yang menyertai peti mati Soleimani dan Muhandis.
Ameri, yang dinobatkan sebagai penerus Muhandis, dan banyak pemimpin Irak lainnya telah meminta semua faksi di Irak untuk menyatukan dan mengusir pasukan asing.
"Kami menyerukan semua pasukan nasional untuk menyatukan sikap mereka untuk mengusir pasukan asing yang kehadirannya menjadi sia-sia di Irak," kata Ameri kepada televisi nasional, Jumat seperti dilansir presstv, Sabtu (4//1/20).
Iring-iringan itu berangkat sekitar Kazhimiya, sebuah distrik ziarah Baghdad, sebelum menuju ke Zona Hijau pemerintah dan distrik diplomatik di mana pemakaman kenegaraan dihadiri oleh pejabat tinggi.
Konvoi itu berliku-liku melalui lautan pelayat berpakaian hitam, beberapa di antaranya membawa potret Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Mayat-mayat Iran kemudian akan diterbangkan pada Sabtu malam ke Iran, yang telah menyatakan tiga hari berkabung untuk Jenderal Soleimani. Pemakamannya akan diadakan pada hari Selasa di kampung halamannya di Kerman, Iran tengah.
Prosesi pemakaman juga akan diadakan pada hari Sabtu di kota-kota suci Karbala dan Najaf.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat kemarin, Pentagon mengatakan Presiden Donald Trump telah memerintahkan militer AS untuk membunuh Jenderal Qassem Soleimani.
Iran telah memperingatkan bahwa "balas dendam keras" sedang menunggu AS setelah serangan yang menewaskan pemimpin Pasukan Quds itu. [Fhr]