PBB Gelar Penyelidikan Terkait Serangan Udara di Afghanistan Yang Banyak Menewaskan Warga Sipil

PBB Gelar Penyelidikan Terkait Serangan Udara di Afghanistan Yang Banyak Menewaskan Warga Sipil

Telusur.co.id

 Kunduz – Penduduk desa di Provinsi Kunduz, Afghanistan, pada hari Selasa memakamkan puluhan korban serangan udara kubu pemerintah di desa yang dikuasai Taliban.

Kantor gubernur provinsi utara tersebut mengatakan bahwa serangan udara itu terjadi pada hari Senin, dilancarkan pesawat tempur pemerintah dengan sasaran awal pertemuan sejumlah tokoh Afghanistan tersebut, tapi menewaskan warga dengan jumlah yang belum diketahui.

Korban di kalangan warga tersebut adalah gambaran semakin besarnya ancaman penggunaan kekuatan udara, yang menjadi bagian dari strategi Amerika Serikat untuk memaksa Taliban maju ke meja perundingan.

Sayed Jaan, warga di distrik Dasht-i-Achi, mengaku menghadiri dua penguburan besar dengan jumlah mayat hampir 40 orang. Dia juga mengatakan bahwa masih banyak penguburan besar lain.

Jaan mengatakan serangan helikopter itu terjadi bersamaan dengan peringatan suci Dastaar Bandi, untuk merayakan keberhasilan para pemuda setempat menghafal kitab suci al Quran.

“Ada dua penguburan massal bagi para korban pengeboman dan saya menghadiri keduanya. Salah satunya ada 16 mayat, sementara yang lainnya 21. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak kecil,” kata Sayed Jaan.

“Masih ada sejumlah pemakaman lainnya,” kata dia.

Sementara itu, Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) mengatakan bahwa pihaknya sudah mengirim sebuah tim ke area kejadian untuk “menyelidiki laporan memprihatinkan terkait jatuhnya korban sipil”.

Pejabat tinggi kementerian pertahanan Afghanistan mengatakan bahwa serangan udara yang sama terjadi saat sejumlah tokoh Taliban bertemu, dan berhasil menewaskan 35 orang anggota kelompok itu. Dia membantah laporan jatuhnya korban sipil dan mengatakan bahwa dua orang komandan senior Taliban telah terbunuh.

Namun, pemerintah provinsi, termasuk gubernur dan polisi sudah menyimpulkan bahwa serangan udara dari Kabul memang menarget rapat Taliban, namun juga menimbulkan korban sipil, demikian keterangan kantor gubernur setempat.

Taliban sempat menguasai kota Kunduz pada 2015 dan kembali melakukannya pada tahun berikutnya. Saat itu serangan udara Amerika Serikat menghancurkan sebuah rumah sakit dan menewaskan 42 orang, sebagian besar di antaranya adalah pasien dan staf medis.

Kota itu dinilai relatif aman sepanjang dua tahun terakhir, namun Taliban masih menguasai wilayah di sekitarnya.

Video unggahan Taliban menunjukkan sedikit-dikitnya empat mayat anak-anak terbungkus kain putih. Ada juga gambar-gambar lain yang beredar menunjukkan anak-anak dan orang dewasa tengah dirawat di rumah sakit karena terluka.

Pada saat ini, prioritas NATO adalah memperkuat angkatan udara pemerintah. Pada Senin, Taliban mengatakan bahwa serangan udara pemerintah telah menewaskan 150 ulama dan warga sipil. Mereka juga membantah telah menggelar pertemuan di tempat itu.

Pada tahun lalu, lebih dari 10.000 warga tewas dan terluka akibat perang pemerintah Afghanistan dengan sejumlah kelompok keras. Angka itu turun sembilan persen dari tahun sebelumnya, kata UNAMA dalam laporan, yang disiarkan pada bulan Februari. (der/reuters)

 

Komentar

Artikel Terkait