Opsi Militer Masih Jadi Pertimbangan AS Kepada Korut

Opsi Militer Masih Jadi Pertimbangan AS Kepada Korut

Telusur.co.id

Jakarta – Pakar Ilmu Hubungan Internasional UGM Yogyakarta Nur Rachmat Yuliantoro menilai opsi militer masih menjadi pertimbangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Korea Utara jika pertemuan puncak kedua pemimpin negara pada akhir Mei tidak berakhir positif.

“Pandangan ini bisa dilihat dari sejumlah pernyataan Trump di akun Tweeternya, dari situ tampak bahwa dia masih melihat opsi militer sebagai kebijakan yang mungkin dilakukan,” ujar Rachmat saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Trump, yang dilantik pada Januari 2018, merupakan presiden yang kerap menjelaskan berbagai kebijakan pemerintahannya melalui akun Tweeter yang dia miliki, termasuk kebijakan luar negeri AS.

Lebih lanjut Rachmat menjelaskan, meski opsi militer bukan “solusi terbaik” bagi Korea Utara, namun pilihan tersebut bisa dipertimbangkan oleh Presiden Trump apabila rezim di Korea Utara tetap menjalankan program peluru kendali dan senjata nuklirnya.

“Jadi sekali pun Trump menyambut baik ajakan Kim Jong-Un untuk bertemu di bulan Mei mendatang, tapi itu tidak akan menghilangkan kemungkinan AS untuk tetap menggunakan opsi militer jika pembicaraan tidak menghasilkan sesuatu yang positif,” kata Kepala Departemen Hubungan Internasional Fisipol UGM itu menerangkan.

Namun Rachmat menekankan, opsi militer juga bukan sebuah kecenderungan pilihan yang akan dipilih AS, melainkan masih sebatas pertimbangan-pertimbangan dari para penasehatnya.

Trump, kata Rachmat melanjutkan, mungkin akan lebih mendengarkan masukan-masukan dari mereka yang ingin opsi tersebut.

Contohnya adalah pada saat pemecatan Rex Tillerson dari jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri AS, yang kemudian diajukan penggantinya ialah Mike Pompeo yang merupakan Direktur Badan Intelijen AS atau CIA.

“Tillerson ini tipe orang yang suka dialog dan negosiasi, tapi Trump tidak mendengarkan masukan dari Tillerson. Dia mungkin lebih mendengarkan masukan dari para jenderal militer, menantunya Jared Kushner, atau Pompeo, yang menegaskan Korea Utara harus diancam dengan kekuatan militer,” pungkas Rachmat.

Secara umum, situasi di Semenanjung Korea mengalami perkembangan signifikan usai adanya rencana untuk pertemuan tingkat tinggi antar kepala negara kedua Korea dan Korea Utara dengan Amerika Serikat, yang masing-masing akan berlangsung pada akhir bulan April dan akhir bulan Mei.

Situasi ini berkembang pasca dilaksanakannya Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang Korea Selatan bulan Maret, dengan dikirimkannya sejumlah atlet dan delegasi dari Korea Utara ke Selatan, yang dibalas dengan kunjungan pejabat tinggi serta perwakilan budaya dari Selatan ke Utara.

Meski sempat terlibat saling adu ancaman dan melontarkan kalimat permusuhan pada tahun lalu, namun Presiden Trump menyambut baik rencana pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un. (der/ant)

 

Komentar

Artikel Terkait