Para pejabat Amerika Serikat harus menjaga pernyataan-pernyataan mereka ke publik, yang dapat menyinggung bangsa lain.
Hal itu sebagaiman disampaikan Pengamat hubungan internasional, Teguh Santosa saat dihubungi telusur.co.id, melalui sambungan telepon, Jumat malam (25/5/18).
“Dalam situasi macam begini, teknik komunikasinya harus disesuaikan. Ada saatnya kita bicara untuk disampaikan depan publik, ada juga pembicaraan di belakang, yang tidak perlu disampaikan,” kata Teguh, yang juga Dosen Hubungan Internasional Asia Timur Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu.
Menurut Ketua bidang Luar Negeri Persatuan wartawan Indonesia (PWI) itu, Amerika kerap menggunakan diksi yang menyinggung.
“Dalam hal diksi, penggunaan istilah, seringkali Amerika menggunakan yang menyinggung. Misalnya Wapres AS Mike (Mike Pence) yang mengatakan Korea Utara bisa ‘berakhir seberti Libya’. Itu tidak boleh, Itu bisa merusak (hubungan kedua negara),” kata pria yang biasa disapa Bang Teguh itu.
Terkait kabar terbaru yang memungkinkan peluang pertemuan Trump dan Jong-un bisa terjadi, dan sebagaiman situs berita Reuters, juga memuat dengan judul “On again? Trump says still chance of June 12 North Korea summit“, serta pernyataan Trump dalam akun twitter-nya, Teguh menilai jika pertemuan itu adalah hal yang bagus.
Namun, dirinya meminta Jong-un belajar jika di zaman sekarang ini, tidak ada lagi ‘polisi dunia’.
“Pertemuan itu bagus-bagus saja. Tapi ini untuk Kim Jong-un, harus mulailah mempelajari, Amerika bukan ‘Polisi dunia’. Di zaman ini, tidak ada ‘polisi dunia’, superpower tidak ada. Tidak boleh main tekan. Tidak bisa (AS) mengatakan ‘Polisi dunia’,” kata Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK) itu.
Dirinya juga menyayangkan ucapan Amerika yang mengklaim pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, adalah buah tekanan AS.
“Itu sangat sensitif, bisa membuat (hubungan) kedunya (Korut-Korsel) terganggu lagi. Pertemuan Korea Utara dan Selatan adalah kemauan bangsa Korea sendiri. Tidak ada tekanan. Biarlah bangsa korea menentukan sendiri kedepannya. Mereka (bangsa Korea) lebih tua dari Amerika,” kata Teguh, yang juga Sekjen Perhimpunan Persahabatan Korea Utara tersebut.
Sebelumnya, pada Kamis, Trump membatalkan pertemuan pertama dalam sejarah antara pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara, yang rencananya akan digelar di Singapura pada 12 Juni mendatang.
Keputusan Trump diambil dengan dalil Korea Utara berulang kali mengancam akan mundur dari pertemuan puncak di Singapura sebagai balasan terhadap pernyataan penuh permusuhan dari pejabat di Gedung Putih.
Pada Jumat malam, Reuter menuliskan, Presiden AS Donald Trump memberikan kemungkinan bahwa pertemuan 12 Juni, masih bisa berlangsung. Trump mengindikasikan KTT itu bisa diselamatkan setelah menerima pernyataan damai dari Korea Utara dan mengatakan itu tetap terbuka untuk pembicaraan.
“Itu adalah pernyataan yang sangat bagus yang mereka keluarkan,” kata Trump ketika dia meninggalkan Gedung Putih untuk menyampaikan pidato permulaan di Akademi Angkatan Laut AS.
Diketahui, Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Wapres Pence memperingatkan Kim Jong-un yang dinilai mempermainkan AS.
Pence menyatakan, jika Kim Jong-un melakukannya maka itu adalah sebuah kesalah besar. Pence pun mengulangi ancaman yang dilontarkan John Bolton dan Trum sebelumnya bahwa Korut bisa berakhir seperti Libya ‘jika Kim Jong-un tidak membuat kesepakatan.’
Wakil Menteri Luar Negeri Korut Choe Son Hui pun bereaksi keras. Dia menyebut pernyataan Pence sebagai dunungu dan bodoh. “Jika AS melecehkan niat baik kami dan bertindak tidak sesuai dengan hukum, saya akan memberi saran kepada pemimpin kami untuk mempertimbangkan pertemuan dengan AS,” kata Choe. [ipk]