telusur.co.id - Sejak memegang kendali pemerintahan Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) kerap membuat ulah dengan berbagai negara tetangga. Karena itu, beberapa anggota keluarga penguasa dan elit bisnis Arab Saudi telah menyatakan frustrasi dengan kepemimpinan MBS.
Tak hanya hoby perang dengan Yaman, kasus pembunuhan Khashoggi, MBS juga bermasalah dengan Iran. Bulan lalu, kilang minyak diserang drone.
“Kejadian ini telah memicu kekhawatiran di antara beberapa keluarga Al Saud yang berkuasa, tentang kemampuan pangeran mahkota untuk mempertahankan dan memimpin eksportir minyak terbesar di dunia,” menurut seorang diplomat asing senior dan lima sumber yang terkait dengan para bangsawan dan elit bisnis, seperti dilansir kantor Berita Reuters.
“Serangan itu juga telah memicu ketidakpuasan di antara beberapa kalangan elit yang percaya bahwa putra mahkota telah berusaha terlalu ketat untuk menguasai kekuasaan,” kata sumber itu.
Beberapa elite kerajaan juga menyayangkan sikap MBS yang terlalu agresif terhadap Iran. "Ada banyak kebencian" tentang kepemimpinan putra mahkota, kata salah satu sumber, seorang anggota elit Saudi dengan koneksi kerajaan. "Bagaimana mereka tidak dapat mendeteksi serangan itu?"
Bahkan, disebutkan sumber itu lagi, beberapa orang di kalangan elit mengatakan mereka "tidak percaya" pada putra mahkota, sebuah pernyataan yang digemakan oleh empat sumber lainnya dan diplomat senior.
Kendati banyak yang tidak suka dengan MBS, faktanya putra mahkota memiliki pendukung yang setia. Sebuah sumber Saudi dalam lingkaran yang setia pada putra mahkota mengatakan: "Peristiwa terbaru tidak akan memengaruhi dirinya secara pribadi sebagai penguasa potensial karena ia berusaha menghentikan ekspansi Iran di kawasan itu. Ini adalah masalah patriotik, dan karenanya ia menang." "Aku akan berada dalam bahaya, setidaknya selama ayahnya masih hidup."
Seorang diplomat asing senior kedua mengatakan Saudi biasa masih ingin bersatu di belakang MBS sebagai pemimpin yang kuat, tegas, dinamis. [Ham]