Jadi PM Baru Lebanon, Hassan Diab akan Bentuk Pemerintahan Secepat Mungkin

Jadi PM Baru Lebanon, Hassan Diab akan Bentuk Pemerintahan Secepat Mungkin
Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab. (dw.com)

telusur.co.id - Mantan menteri pendidikan Lebanon, Hassan Diab, akhirnya resmi menjadi perdana menteri baru Lebanon pada Kamis (19/12/19) lalu.

Doktor di bidang teknik Mesin itu bersumpah akan segera membentuk pemerintahan dan bekerja semaksimal mungkin untuk mengatasi krisis ekonomi dan meyakinkan para demonstran di Lebanon.

“Segala upaya harus dikerahkan untuk menghentikan krisis dan mengembalikan stabilitas,” ucapnya di istana kepresidenan seperti dikutip dari cbc, Sabtu (21/12/19).

Latar Belakang Diab

Diab, 60, memiliki gelar PhD di bidang teknik komputer dari University of Bath di Inggris dan telah mengampu kuliah di American University of Beirut sejak 1985.
 
Pada 2006, ia diangkat sebagai wakil presiden Program Eksternal Regional (REP) AUB, badan konsultasi dan pengembangan profesional universitas.
 
Diab menjabat sebagai menteri pendidikan antara 2011 dan 2014, di bawah Perdana Menteri saat itu Najib Mikati.
 
Menurut sebuah biografi 2018, Diab adalah satu dari sedikit teknokrat non-partai yang menjadi menteri di Lebanon. Dia juga menteri pendidikan Lebanon pertama yang memiliki latar belakang profesional di pendidikan tinggi.
 
Setelah meletakkan jabatan, ia kembali ke peran mengajar dan administrasi di AUB.
 
Elie Ferzli, wakil ketua parlemen Kristen Ortodoks Yunani dan sekutu Hizbullah, mengatakan pencalonan Diab mengambil "perhitungan beberapa prasyarat dasar yang diinginkan oleh rakyat" dan menyebutnya "tokoh berintegritas".
 
Tetapi Mikati, yang telah mendukung pencalonan Hariri, mengatakan dia skeptis bahwa Diab akan dapat memimpin Lebanon keluar dari krisis politik dan ekonomi.

Lebanon telah dilanda krisis ekonomi sejak berlangsungnya perang sipil tahun 1975-1990. Krisis ini menuntut dibentuknya pemerintah baru, menyusul berhentinya Perdana Menteri Saad al-Hariri dari tampuk kekuasaan pada 29 Oktober silam.

Rakyat Lebanon memenuhi jalanan di negara itu sejak Oktober silam, menuntut pemerintah memperbaiki krisis ekonomi dan mengakhiri praktik korupsi para elit politik.

Selama ini, sistem politik di Lebanon diwarnai dengan corak politik sektarian. Ada tiga kelompok yang berperan penting di negara ini. Pertama adalah Hizbullah, yang memiliki hubungan dengan Iran. Kedua adalah Arab Saudi, dan yang terakhir adalah penganut Kristen. [Fhr]

Komentar

Artikel Terkait