Sebuah mortir ditembakan oleh gerilyawan ISIS ke kota Damaskus, Suriah, Selasa, menghantam Daerah Naher Aysheh dan menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 25 lainnya.
Tayangan dari ruang darurat di satu rumah sakit di Damaskus memperlihatkan orang yang cedera terbaring di tandu dan ranjang rumah sakit, demikian laporan Xinhua.
Serangan tersebut dilakukan di tengah pertempuran sengit antara tentara Suriah dan gerilyawan ISIS terutama di kota Hajar Al-Aswad dan Daerah Kamp Yarmouk pada Selasa, saat militer Suriah bertekad untuk membersihkan anggota IS dari daerah di sebelah selatan Damaskus.
Militer Suriah memulai operasimiliter terhadap ISIS di sebelah selatan Damaskus enam hari sebelumnya, setelah kelompok yang dicap sebagai organisasi teror tersebut menolak kesepakatan bagi pengungsian ke daerah gurun terpencil di bagian timur Suriah.
Pada Rabu (18/4), seorang juru bicara PBB mengatakan sebanyak 137.000 orang masih mengungsi dari Kabupaten Afrin, Suriah, di daerah Tall Rafaat, Nabul, Zahraa dan Fafin akibat permusuhan dan operasi militer yang dimulai pada 20 Januari.
“Selain itu, sebanyak 150.000 orang masih berada di dalam Kabupaten Afrin, tempat akses ke orang yang memerlukan bantuan masih sangat terbatas,” kata Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam taklimat harian dengan mengutip Kantor PBB bagi Koordinasi Utusan Kemanusiaan.
Meskipun PBB terus menyediakan bantuan buat orang yang kehilangan tempat tinggal dari Afrina, badan dunia tersebut tak memiliki akses rutin langsung ke kabupaten itu. Dan organisasi kemanusiaan yang beroperasi di sana terus menghadapi tantangan akses, “terutama akibat pembatasan gerakan yang diterapkan oleh para pelaku di lapangan”, katanya.
Pada Selasa sore (17/4), Koordinator Bantuan Darurat PBB Mark Lowcock memberi penjelasan kepada Dewan Keamanan, dan memberikan keterangan terkini mengenai Raqqa serta tempat lain.
Lowcock mengatakan sejak Da’esh dipaksa keluar dari Raqqa pada Oktober, hampir 100.000 orang telah kembali ke kota tersebut.
Namun, keadaan tidak kondusif bagi mereka untuk pulang, akibat “banyaknya bahan peledak yang tidak meledak dan pencemaran peledak rakitan, kerusakan parah prasarana secara luas, dan kurangnya layanan dasar”, kata juru bicara itu. (der/xinhua)