Hizbullah: Pejuang Libanon Menang Atas Israel Berkat Jenderal Soleimani

Hizbullah: Pejuang Libanon Menang Atas Israel Berkat Jenderal Soleimani
Sekjen Hizbullah Libanon, Sayyid Hassan Nasrallah (tengah), bersama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan Jenderal Qassem Soleimani. (Foto: khamenei.ir).

telusur.co.id - Para pejuang muqawamah (perlawanan terhadap AS dan Israel) di Libanon dapat melindungi Libanon dan menjadi ancaman besar bagi rezim Zionis Israel adalah berkat dukungan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pemimpin besar Iran, dan jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani yang gugur diserang AS.

 

Begitu disampaikan Sekjen Hizbullah Libanon Sayyid Hassan Nasrallah dalam pidatonya pada acara mengenang tujuh hari gugurnya jenderal mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tersebut, Minggu, yang dilansir alalam, Senin (13/1/20).

Dalam kesempatan itu, Nasrallah menepis keras tudingan AS bahwa Soleimani berencana meledakkan Kedutaan Besar AS di Baghdad.

Dia juga menjelaskan, bahwa proses pembalasan atas darah Soleimani akan berlangsung lama, dan tidak akan berhenti pada gempuran rudal Iran yang telah menerjang markas militer AS di Pangkalan Udara (Lanud) Ain Assad, Irak.

“Balasan atas pembunuhan Soleimani bukanlah berupa operasi tunggal, melainkan merupakan proses yang harus berujung pada keluarnya AS dari kawasan, dan apa yang terjadi di Ain Assad merupakan satu tamparan dalam peroses panjang ini," katanya. 

Dikatakannya, sasaran utama serangan itu memang Ain Assad, rudal-rudal telah menjangkau jantung pangkalan ini dan menimpa target-targetnya. 

"Ketika mulai diumumkan pernyataan (Presiden AS Donald Trump) bahwa di sana tidak ada korban tewas dan luka dan diapun meremehkan serangan ini, maka kita mengetahui bahwa Trump tidak ingin berperang… Keputusan membalas AS menunjukkan suatu keberanian yang langka,” tegasnya.

Dia juga menilai gempuran rudal itu sekaligus pesan bagi Israel agar “serius memandang ancaman Iran”.

“Gempuran rudal Iran mendarat di Ain Assad, Irak, tapi yang meratapinya adalah Rezim Zionis,” ujarnya.

Sayid Nasrallah juga menyebut pemborbardiran oleh Iran telah meruntuhkan wibawa AS, sementara reaksi Trump yang hanya berupa peningkatan sanksi adalah karena ketangguhan Iran.

Dia menambahkan bahwa Poros perlawanan sudah mulai bekerja untuk mengusir pasukan AS dari kawasan.

“Seperti pernah saya katakan, pasukan AS datang dengan kondisi tegak, tapi mereka harus tahu bahwa mereka akan pergi dalam keadaan berbaring (dalam peti mati),” ancamnya.

Mengenai Soleimani, Nasrallah mengaku menjalin hubungan yang erat dengan Jenderal legendaris itu. Menurut Nasrallah, Soleimani telah memberikan bantuan pikiran dan materi. Soleimani juga adalah mitra utama dalam pembebasan Libanon (dari pendudukan Israel) pada tahun 2000. 

"Dan sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk mengatakan hal ini setelah kesyahidannya…. Keberadaan Qassem Soleimani di tengah kami merupakan salah satu penyebab kemenangan kami atas Israel pada tahun 2000. Dia adalah mitra kami dalam kemenangan. Setelah tahun 2000 kami memasuki fase baru hubungan kami dengan Soleimani dan pengembangan kekuatan rudal kami,” kenangnya.

Nasrallah juga memastikan, bahwa prosesi penghormatan dan pemakaman jenazah Soleimani telah “menakutkan Trump dan pemerintahannya serta membuat mereka benar-benar frustasi”. Dia juga menegaskan bahwa AS merupakan “ancaman pertama, sedangkan Israel hanyalah alat dan barak militer AS yang dipasang di kawasan kita”. [Tp]

 

 

Komentar

Artikel Terkait