telusur.co.id - Di tengah mengeruhnya suasana Timur Tengah akibat prakarsa Amerika Serikat (AS) yang dinamai 'Perjanjian Abad Ini', ada laporan bahwa Arab Saudi yang notabene sudah lama berupaya menormalisasi hubungannya dengan Israel berhasrat membeli rudal presisi Spike jarak jauh buatan rezim Zionis tersebut.
Koran al-Araby al-Jadeed yang bermarkas di London, pada Senin (3/2/20), mengutip laporan majalah Israel Defense mengungkapkan, bahwa perusahaan Israel Rafael Advanced Defense Systems yang memproduksi perangkat keras militer sedang berusaha mendapatkan izin otoritas resmi melalui Euro Spike, anak perusahaannya di Eropa, untuk mengekspor rudal Spike ke Arab Saudi.
Laporan itu menyebutkan, bahwa pasokan rudal Spike ke Arab Saudi masih akan menghadapi keberatan di Israel. Kementerian Keamanan Israel mengungkapkan kemungkinan tidak mendukung ekspor itu lantaran khawatir senjata itu dapat digunakan untuk menghadapi Israel sendiri jika sewaktu-waktu Riyadh berbalik memusuhi Tel Aviv.
Meski demikian, Al-Araby al-Jadeed mencatat bahwa kementerian itu memungkinkan Rafael untuk mengekspor rudal Spike ke Arab Saudi, mengingat siklus hidup senjata itu diperkirakan hanya sekitar sepuluh tahun, suatu jangka waktu dimana terlampau kecil kemungkinan akan terjadi konfrontasi antara Riyadh dan Tel Aviv.
Arab Saudi tampak berusaha mendiversifikasi sumber senjata dan peralatan militer yang diimpornya, dan tidak ingin hanya mengandalkan rudal anti-tank BGM-71 TOW buatan AS, yang saat ini diproduksi oleh Raytheon, kontraktor dan industri militer utama AS. Negara kerajaan kaya minyak ini telah mengimpor senjata itu sejak 2017.
Rudal Spike, pertama kali dirilis oleh Rafael pada tahun 2012 dalam empat varian: Spike NLOS, Spike ER, Spike MR / LR dan Spike SR.
Pada September tahun lalu, Al-Khaleej melaporkan bahwa Arab Saudi telah membeli sistem pertahanan udara Iron Dome dari Israel.
Bulan lalu, ulama senior dan mantan menteri kehakiman Saudi, Sheikh Muhammad bin Abdul Karim bin Abdulaziz al-Issa, melakukan kunjungan resmi ke bekas kamp konsentrasi Nazi, Auschwitz, di Polandia.
Direktur Eksekutif Komite Yahudi Amerika (AJC), David Harris, menyebut kunjungan Issa ke situs itu sangat penting, dan mengklaim bahwa Issa merupakan “delegasi paling senior” di antara para cendekiawan Muslim yang pernah mengunjungi Auschwitz. [Fhr]