Tanpa Visi yang Kuat, Indonesia Hanya Jadi Pasar Digital Asing

Tanpa Visi yang Kuat, Indonesia Hanya Jadi Pasar Digital Asing

Telusur.co.id - Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan,  bisnis yang berbasis digital (online) di Indonesia saat ini masih di bawah rata-rata dibanding negara lain.

Menurut Rizal, sudah seharusnya generasi milenial khususnya, untuk cepat mengembangkan bisnis online, sebelum menjadi peluang bagi pelaku investasi asing. Dan, diharapkan anak muda mendapatkan manfaat dari bisnis tersebut, bukan hanya menjadi konsumen.

“Hari ini penetrasi digital bisnis dan finansial Indonesia relatif masih rendah. Tapi dalam 5 sampai 10 tahun akan sangat besar dengan 270 juta penduduk. Kita ingin anak-anak muda Indonesia mendapatkan manfaat dari rantai nilai tambah ekpansi digital tersebut, bukan sekedar jadi pasar dan konsumen,” cuit Rizal diakun resminya @RamliRizal, Senin (3/12/18).

Dr. Rizal Ramli@RamliRizal

“Hari ini penetrasi digital bisnis & finansial Indonesia relatif masih rendah. Tapi dalam 5-10 tahun akan sangat besar dgn 270 juta penduduk. Kita ingin anak2 muda Indonesia mendapatkan manfaat dari rantai nilai tambah ekpansi digital tsb., bukan sekedar jadi pasar & konsumen.”

204

07.50 - 3 Des 2018

Info dan privasi Iklan Twitter

69 orang memperbincangkan tentang ini

 

 

Dia mengaku khawatir, masih rendahnya bisnis online, tidak menutup kemungkinan akan dikuasai oleh pasar asing yang ingin berbisnis di Tanah Air.

Oleh karena itu, mantan menteri koordinator perekonomian ini  mengingatkan,  agar pasar bisnis online tersebut  jangan sampai disusupi oleh banyaknya investor asing.

“Tanpa visi nasional yang kuat, Indonesia hanya akan jadi pasar digital dan online (270 juta orang) untuk oligopoli (keadaan pasar perdagangan yang tidak seimbang) Amerika dan China. Harus mulai dipahami, selain kedaulatan teritorial, kita juga harus pertahankan kedaulatan teritori digital, sehingga bermanfaat untuk kemakmuran bangsa kita,” tegas Rizal.

Dr. Rizal Ramli@RamliRizal

Tanpa visi nasional yg kuat, Indonesia hanya akan jadi pasar digital & online (270 juta orang) utk oligopoly Amerika & China. Harus mulai dipahami, selain kedaulatan teritorial, kita juga harus pertahankan kedaulatan teritori digital, shg bermanfaat utk kemakmuran bangsa kita !

2.098

07.46 - 3 Des 2018

Info dan privasi Iklan Twitter

798 orang memperbincangkan tentang ini

 

 

Lebih lanjut, eks menteri  koordinator kemaritiman ini  juga berharap agar generasi milenial segera melek dengan adanya perkembangan digitali
Sebab, bisnis digital ini lebih dipastikan bakal memberikan keuntungan berlipat.

“Kita perlu mempertahankan kedaulatan teritori digital Indonesia, agar anak-anak muda Indonesia bisa mendapatkan manfaat dari rantai nilai tambah ekpansi digital. Oleh karenanya, hati-hati dengan ide 100 persen pemilikan asing di bizz digital, data interchanges, online contents, payment system,dan sebagainya,” ungkapnya.

Dr. Rizal Ramli@RamliRizal

Kita perlu mempertahankan kedaulatan teritori digital Indonesia, agar anak2 muda Indonesia bisa mendapatkan manfaat dari rantai nilai tambah ekpansi digital. Oleh karenanya hati2 dgn ide 100% pemilikan asing di bizz digital, data interchanges, online contents, payment system dsb

682

07.53 - 3 Des 2018

Info dan privasi Iklan Twitter

280 orang memperbincangkan tentang ini

 

Menteri Keuangan, Sri Mulyani sebelumnya mengatakan, era ekonomi digital telah meningkatkan literasi keuangan dan literasi digital khususnya untuk perempuan di Indonesia. Apalagi, didukung dengan adanya empat unicorn yang telah berhasil mentransformasi ekonomi dan membuka akses kepada pengusaha termasuk perempuan.

“Para pengusaha yang sebelumnya tidak punya akses terhadap pasar, menjadi sangat mudah terhubung dengan pasar. Perkembangan ini sangat membantu perempuan terlibat aktif dalam inklusi keuangan,” katanya dalam diskusi panel ‘The Role of Finance for Women’s Economic Empowerment’ di Buenos Aires, Argentina, Kamis (29/11/18).[far]

Komentar

Artikel Terkait