Telusur.co.id - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian, berkomitmen mendukung pengembangan budidaya ternak puyuh.
Dirjen PKH Kementan I Ketut Diarmita menyampaikan bahwa pemerintah selalu siap memfasilitasi pengembangan peternakan puyuh di Indonesia. Apalagi, bagi komoditas yang potensinya sangat besar dan berpeluang untuk ekspor.
Hal itu disampaikan Ketut saat berkunjung ke Araya Quail Farm (AQF) di Cimande, Bogor, Jawa Barat . Di Cimande, Ketut bertemu dengan Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) yang datang dari berbagai tempat di Indonesia. Dalam ucapan selamat datangnya, Gutomo, pemilik AQF sekaligus Jenderal Bintang 2 Purnawirawan TNI AU ini menyampaikan terima kasih atas kehadiran pemerintah dalam upaya mengembangkan potensi peternakan puyuh di Indonesia.
“APPI diharapkan membentuk kelompok-kelompok peternak untuk memudahkan pembinaan dan fasilitasi dari pemerintah baik dari segi teknis maupun dukungan kebijakan,” kata Ketut.
Kedepan, kata Ketut, pemerintah akan menyiapkan kebijakan untuk pengembangan puyuh. Termasuk kebijakan teknis dalam implementasi biosekuriti peternakan.
“Untuk peternakan puyuh yang sudah siap ekspor akan difasilitasi dan didampingi sampai bisa mendapatkan sertifikasi bebas kompartemen avian influenza. Karena ini merupakan syarat mutlak untuk bisa ekspor” imbuh Ketut, dalam keterangan persnya, Selasa (9/7/19).
Kriswiyanto, salah satu peternak puyuh dari Sukabumi, menyampaikan bahwa dari segi budidaya, beternak puyuh itu sangat mudah dan ancaman penyakitnya pun sangat sedikit, dibanding ternak unggas lainnya. Sementara terkait dengan hoax produk puyuh yang dianggap tinggi kolesterol sehingga membuat masyarakat enggan mengkonsumsinya, Kriswiyanto membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa kolesterol yg dikandung oleh produk ternak puyuh merupakan kolesterol yang baik dan menyehatkan.
“Produk-produk ternak puyuh kami sudah diuji oleh laboratorium pemerintah, universitas, dan juga swasta, hasilnya memastikan bahwa produk ternak puyuh memiliki kandungan protein tinggi, dan untuk by product berupa kohe dapat memenuhi unsur hara makro dan mikro yg baik untuk pupuk,” jelas Kriswiyanto.
Mengamini Kriswiyanto, Haris Lambey, peternak puyuh dari Batam yang juga masih aktif sebagai Polisi ini juga menyampaikan berbagai potensi ternak puyuh, termasuk potensi ekspor ke beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia.
Sementara itu, Anton Permana, Alumni Lemhannas yang selama ini aktif membina peternak puyuh organik menyampaikan potensi pasar domestik produk puyuh masih sangat terbuka lebar. Produk telur puyuh per bulan saja baru mencukupi 10% dari potensi kebutuhan sebesar 50 juta butir, belum lagi produk puyuh lainnya seperti daging atau olahan produk puyuh seperti bakso, sosis, nugget, dan lain-lain.
“Saat ini pola pemeliharaan dan bisnis puyuh masih konvesional, kedepan kami bercita-cita budidaya dan pemasaran produk puyuh ini bisa dilakukan lebih modern dan profesional, oleh karena itu kami memberikan pendampingan, supervisi, dan menyediakan fasilitas pelatihan budidaya dan pemasaran produk puyuh di AQF, Cimande ini dan juga di Slamet Quail Farm, Sukabumi untuk para peternak puyuh di Indonesia,” Jelasnya.
Kemudian, lanjut Anton, program yang dilakukan termasuk peningkatan kualitas SDM peternak, menajemen SOP produksi, operasional, dan juga digital marketing. Para peternak yang sudah bergabung dengan APPI akan disupervisi melalui menajemen holding bernama HL Puyuh Indonesia agar kedepan bisa bersinergi dan mempunyai peningkatan nilai tambah atas hasil produksi mereka, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak puyuh.
“Ini adalah implementasi dari konsep ketahanan pangan nasional berbasis ternak yang secara kultur budaya sangat dekat dgn masyarakat Indonesia” pungkasnya.[Ham]