Pemerintah Selalu Salahkan Negara Lain Jika Rupiah Melemah

Pemerintah Selalu Salahkan Negara Lain Jika Rupiah Melemah

Telusur.co.id -

Pemerintah Indonesia selalu menyalahkan negara lain jika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah.

Seperti pada saat nilai tukar rupiah merosot ke 14.600 per dolar AS. Dimana Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebutkan ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kondisi rupiah. Namun untuk kali ini yang mengambil andil cukup besar dalam pelemahan mata uang Garuda tersebut adalah krisis yang sedang terjadi di Turki.

“Jadi pada minggu terakhir ini faktor yang berasal dari Turki,” kata Sri Mulyani di JS Luwansa, Jakarta, Senin (13/8/18).

Kemudian, saat nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp 14.700 per dolar AS, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menilai pelemahan itu disebabkan oleh krisis Argentina.

“Semua negara di kawasan ini mengalami itu dan memang ada unsur dari surprise (kejutan) dari Argentina,” kata Darmin, di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (31/8/18).

Kali ini, dimana nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tembus melebihi angka Rp 15.100, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hal tersebut didominasi faktor kondisi di Italia.

“Kita lihat sentimen kemarin adalah Italia yang defisitnya besar. Sekarang Italia komitmen menurunkan defisit APBN, lalu ada sentimen yang lain,” kata Sri Mulyani, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/10/18).

Menanggapi itu, ekonom senior Rizal Ramli menyindir Sri Mulyani. Rizal menyebut pernyataan Sri Mulyani sebagai contoh stunning statement, karena dianggap sibuk menyalahkan faktor eksternal.

Ini contoh ‘stunning statement’, tapi hasilnya ‘stunting growth’. Sibuk nyalahin faktor external, tapi miskin terobosan untuk benahi faktor internal,” tulis Rizal Ramli melalui akun Twitter miliknya.

Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan meminta pemerintah tidak selalu menyalahkan faktor eksternal sebagai penyebab merosotnya nilai tukar rupiah. Bank Indonesia sendiri, tak bisa lagi mengintervensi rupiah terlalu dalam. Sebab, dirinya memperkirakan cadangan devisa minggu ini turun menjadi 116,5 miliar dolar. Jika cadangan devisa terus digunakan untuk intervensi rupiah, akan berbahaya bagi ekonomi secara keseluruhan.

Kemudian, kata Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR ini, harga minyak dunia telah menyentuh angka 86 dolar per barrel. Dimana efeknya ada pada kenaikan nilai defisit impor migas. Penaikan harga minyak ini diprediksi terus berlangsung hingga mencapai 100 dolar per barrel dalam beberapa bulan ke depan.

“Akibatnya, nilai tukar Rupiah juga makin tertekan seiring naiknya harga minyak,” kata Heri saat dihubungi, Jumat (5/10/18).

Selain dari pada itu, kecanduan pemerintah terhadap utang asing dalam denominasi dolar masih belum juga sembuh. Terbaru, pemerintah berupaya mendapatkan pinjaman dalam meeting IMF-WB nanti sebesar 2 miliar dolar. Juga utang untuk membeli 51 persen saham Freeport yang akan dilewatkan 11 bank asing.

Kemudian, kebijakan pengurangan impor lebih dari 1.147 barang ternyata tidak berdampak signifikan. Begitu pula dengan kebijakan konversi B20 atau pencampuran biodiesel. Sebaiknya, kata dia, dipertegas terkait koordinasi yang konkrit dan sinergi antarkementerian atau lembaga terkait dalam pemerintahan Jokowi.

“Buktikan dengan kerja nyata bukan sebatas kerja kata, karena pada dasarnya, faktor psikologis dalam soal moneter itu sangat dominan.”

Ditegaskan Heri, pemerintah gagal mengeksekusi kebijakan tersebut dengan baik. [ipk]

Komentar

Artikel Terkait