| Jakarta | Kinerja Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dipertanyakan. Hal tersebut menyusul kembali dibukanya keran impor beras sebesar 500.000 ton jenis premium.
Padahal, Menteri Pertanian mengklaim sudah sangat berhasil membuka lahan baru pertanian. Bahkan, mengakui sudah menyalurkan bibit, pupuk, dan alat pertanian modern untuk mendukung peningkatan produksi padi dalam negeri.
“Bukankah infrastruktur dan suprastruktur yang terkait pertanian sudah sangat memadai,” kata Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia, Andi Fajar Asti dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (12/1/2018).
Selain itu, ratusan balai dan ribuan pegawai pertanian sampai kepelosok daerah sudah dibentuk. Tetapi, kenapa persoalan beras tidak terselesaikan.
“Kenapa kita tidak mampu merencanakan produksi padi yang bisa menutupi kebutuhan dalam negeri? Bukankah beras adalah kebutuhan yang paling pokok dan secara matematis mampu dihitung di atas kertas berapa jumlah yang harus dikonsumsi setiap tahunnya,” kata dia.
Dirinya menyebut keputusan impor beras adalah sesuatu yang sangat memalukan. Terlebih, Indonesia adalah negara agraris.
“Bagaimana mungkin bangsa Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri kalau kedaulatan pangan hanya pepesan kosong.”
Dia pun menuntut Mentan Amran bertanggung jawab dengan memberikan informasi akurat ke Mendag terkait ketersediaan pangan. Sehingga, pasar tidak perlu kaget dan gegabah karena berdampak pada harga pasar yang sulit dikendalikan. [***]