Kebijakan pemerintah terkait impor pangan dan energi mendapat kritikan dari capres nomor urut 2, Prabowo Subianto.
Menurut mantan danjen Kopassus, dengan kondisi alam Indonesia yang ada, kebijakan ini dinilai berbenturan dengan apa yang sudah menjadi cita-cita pendiri bangsa.
“Pemerintah kita sendiri mengumumkan minggu lalu bahwa di tahun 2027 kita akan mengimpor 100 persen kebutuhan energi kita. Hari ini kita mengimpor 1.3 juta barel per hari. Ini tidak bisa dipertahankan untuk ketahanan hidup negara Indonesia,” ujar Prabowo Subianto saat berpidato di Indonesia Economic Forum, Jakarta, Rabu, 21 November 2018.
Untuk itu kata Prabowo, Bangsa Indonesia saat ini harus memiliki terobosan yang cepat agar dapat membenahi segala sektor yang masih tergantung dari negara lain.
“Strategi saya, kita akan menggunakan keunggulan kompetitif kita. Kita menduduki sepertiga zona tropis dunia. Ini berarti kita bisa panen tiga kali setahun dengan teknologi dan pemerintahan yang baik. Keunggulan kompetitif kita di agrikultur dan agribisnis,” katanya.
“Maka dari itu, strategi saya adalah melalui bioenergi dan biofuel. Kita akan membangun ulang hutan-hutan agar menjadi produktif, itu strategi saya. Strategi dorongan Besar tim Prabowo-Sandi adalah untuk berdikari dengan cepat,” lanjut Prabowo.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga mengungkapkan sejumlah kelebihan dari Indonesia yang sebenarnya dapat ditingkatkan lagi dalam rangka menghadapi tantangan kebutuhan energi masa depan.
“Makanya kita yakin bahwa kita dapat memproduksi bioenergi yang luas. Kita bisa memproduksi bioetanol dari pohon aren. Kita bisa memproduksi gas sintetik. Maka dari itu ini akan menjadi inti dari strategi pendorong kita. Kita harus mencapai swasembada pangan,” ungkapnya.
Dan masih kata Prabowo, saat ini Indonesia memiliki lahan yang sangat luas dalam memproduksi sejumlah energi terbarukan tersebut.
“Setelah dikalkulasi, ada sekita 8 juta hektar yang memproduksi energi, dan 4 atau 5 juta hektar yang memproduksi pangan. Kita harus mencari inovasi baru yang revolusioner, teknologi untuk mengelola air kita. Kita bisa melihat sekarang efek dari pergantian iklim,” pungkas Prabowo Subianto.[far]