Beberapa hari menjelang peringatan wafatnya Dr. K.H. Abdurrhman wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, yang ke 9 tahun.
Pakar Hukum Tata Negara Mahfud MD, mengenang kebersamaannya dengan Gus Dur.
Mahfud melalui akun twitternya @mohmahfudmd mengungkapkan,Ia hanya bisa terdiam membisu saat mendengar kematian Gus Dur pada 30 Desember 2009.
Kala itu, diungkapkannya, dirinya bersama KH Hasyim Muzadi, Cak Choirul Anam sedang melakukan rapat kecil dirumah dinasnya yang pada saat itu Mahfud masih menjabat sebagai ketua MK.
“Ketika berita itu tiba-tiba kami terdiam membisu agak lama. KH Hasyim berseru, “Alfatihah”,” ungkap Mahfud.
Tidak menunggu lama setelah itu, Mahfud mengungkapkan, mereka langsung membubarkan diri dan secara sendiri-sendiri berangkat ke RSCM.
Mahfud menceritakan bahwa pintu masuk ke RSM, saat itu penuh sesak. Tapi, karena Mahfud saat itu menjabat sebagai ketua MK berhasil masuk karena dibimbing masuk oleh aparat.
Di dalam ruangan, kata dia, orang-orang terlihat histeris berteriak memanggil Gus Dur karena merasa kehilangan
“Orang-orang histeris berterian\k “Gus Dur, Gus Duuur”. kata Mahfud.
Bersamaan di ruang itu, ia juga menceritakan melihat Effendi Choiri (Gus Choi) sedang memimpin tahlil.
Mahfud pun menyatakan, pada saat diruangan ia langsung mendekati janazah Gus Dur dan berdoa.
Sebagai ketua MK saat itu, Dirinya mengaku ingin tetap terlihat tegar dam tabah dengan tidak menangis.
Tapi, keinginanya itu sirna. Ketika dirinya disadarkan oleh ajudannya dengan tisu yang diberikan kepadanya untuk mengelap air mata yang jatuh dipipinya.
“Saya, ternyata, menangis,” ungkapnya dengan haru.
Bukan hanya mengenang saat Gus Dur pergi untuk selamnya. Mahfud juga menceritakan awal pertemuannya dengan Gus Dur.
Mahfud mengisahkan, tidak pernah menduga akan dipanggil oleh Gus Dur ke Istana. karena dirinya tidak yakin kalau Gus Dur mengenalnya.
“Sy teringat ketika sy dipanggil Presiden Gus Dur. Semula sy tak yakin beliau kenal sy meski sy kenal beliau,”
Saat menghadap, Mahfud berfikir dia akan diangkat menjadi dirjen di sebuah kementerian lembaga yang dipimpin oleh Gus Dur. Tapi, perkiraannya itu meleset.
Mengaku bagai disambar petir, dia ditunjuk oleh Gus Dur sebagai menteri Pertahanan.
“Semula saya kira akan diangkat jadi dirjen atau yang setingkat itu. Tapi beliau meminta sy menjadi menteri pertahanan. Woow, Menteri pertanahan?. ‘Bukan, menteri pertahanan’. ‘Antum saya angkat menjadi menteri pertahanan, bukan pertanahan’, kata Gus Dur serius. Waktu itu sy dtemani oleh Alwi Shihab.,” ungkapnya.
Dari itu, Mahfud mengaku takjub dengan Gus Dur yang mengangkat beberapa menterinya berdasarkan pilihannya sendiri . Sehingga, dari pengamatannya. Menteri-menteri yang dipilih Gus Dur adalah menteri-menteri yang idealis dan tegas seperti Rizal Ramli dan Marsillam.
“Saat Rizal Ramli menjadi menteri, pejabat-pejabat setingkat menteri diberi DOP (dana operasional pimpinan) yang besar agar tidak mempermainkan uang negara. Rizal tahu menteri harus mengeluarkan “ini-itu” padahal gajinya kecil. “Jangan korupsi, pakai uang ini, kalau korupsi saya sikat”,” ungkapnya.
Tidak lupa diungkapkan Mahfud, Gus Dur merupakan tokoh yang sangat teguh prinsipnya soal korupsi dan konstitusi. Bahkan menjelang kejatuhannya sebagai presiden RI, diceritakan Mahfud, Gus Dur tetap melawan serangan politik yang ingin menjatuhkannya itu, meski telah disarankan agar mengalah dulu.
Ia pun mengakui, Gus Dur dan Rizal Ramli merupakan sosok yang sama kerasnya dengan prinsipnya melawan korupsi. Sampai tidak memperhatikan mekanisme hukum yang ribet. Hingga akhirnya, dirinya lah menjadi pihak penengah. “Harus saya akui kimia kegalakan Gus Dur dan Rizal Ramli terhadap korupsi sama kerasnya, “Koruptor jangan diberi hati, sikat”. Tapa terkadang mereka kurang memperhatikan mekanisme hukum yang rumit, “pokoknya sikat”. Saya ada di bagian memberi saran dalam “ke-hati-hatian memproses hukum” tapi dengan tetap tegas,” cerita Mahfud
Saat mengenang sosok Gus Dur itu, Mahfud kembali mengaku sangat merindukan sosok Gus Dur.
Maka dari itu, ia mendoakan idolanya itu berisitirahat dengan tenang.
“Tentu saja sebagai manusia Gus Dur punya kelemahan, misalnya, terlalu cepat marah kepada orag yang dilaporkan melakukan korupsi, sebelum benar-benar didalami. Tetapi kelemahan-kelemahan itu jadi sirna ditengah jibunan kebaikan dan integritasnya sebagai pemimpin bangsa. Sudah 9 thn Gus Dur wafat. Sy merindukannya,” tutupnya.[Far].