Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga mengatakan, pasar tradisional yang mengalami bencana kebakaran pada 29 Februari 2016 lalu, kini dibentuk dan dikelola dengan manajemen moderen.
“Bahkan, pembayaran dengan cara cashless sudah mulai dikenalkan pada para pedagang dan pembeli di Pasar Badung,” kata Puspayoga dalam keterangannya, Sabtu (23/3/19)
Meski sudah berpenampilan moderen, Puspayoga menjamin filosofi Pasar Badung sebagai pasar rakyat tidak akan luntur.
“Rohnya tetap pasar rakyat, pasar tradisional, namun dikelola secara manajemen moderen. Saya meyakini, Pasar Badung akan menjadi ikon pengembangan ekonomi kerakyatan Kota Denpasar dan Bali pada umumnya,” ujarnya.
Beragam fasilitas turut melengkapi Pasar Badung kini. Mulai dari fasilitas umum yang ramah disabilitas, ramah anak, ruang bermain anak, Timbangan Pos Ukur Ulang (Reward Kota Denpasar sebagai Kota Tertib Ukur Tahun 2017 oleh Dirjen Metreologi Kementrian Perdagangan).
Tak hanya itu, tersedia juga sekolah bagi anak pedagang pasar. Ada juga fasilitas mulai dari lift, eskalator, serta fasum dan fasos lainya. Dan yang paling fenomenal adalah Taman Kumbasari Tukad Badung sebagai inovasi yang dirangkaikan dengan Smart Heritage Market Denpasar.
Pasar Badung seluas 24.581 meter persegi ini rampung dengan kapasitas enam lantai, terdiri dari dua basement dan empat lantai untuk los dan kios. Keseluruhan los berjumlah 1.450 unit ditambah jumlah kios sebanyak 290 unit dengan total keseluruhan los dan kios total berjumlah 1.740 unit. Keseluruhan jumlah ini siap menampung keseluruhan pedagang lama Pasar Badung yang berjumlah 1.698 pedagang.[Ham]